Jakarta (ANTARA) - Keseriusan dan kepemimpinan Tota dalam proses menghadirkan program pendidikan nasional untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur bisa menjadi refleksi semangat perjuangan kaum perempuan sebagaimana yang dilakukan RA Kartini dahulu kala.
Sebagai Kepala Sentra Efata Kementerian Sosial, Tota Oceanna Zonneveld mengambil peran krusial sebagai salah satu motor penggerak utama Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang.
SRMP 19 Kupang merupakan satu dari 100 Sekolah Rakyat rintisan yang pertama dibangun secara nasional pada 2025. Sementara sekolah gratis berbasis asrama untuk anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem itu memanfaatkan sentra seluas 12 hektare yang merupakan UPT Kementerian Sosial di Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Tota, dalam proses itu, yang memastikan semua rancangan program bisa berjalan baik ketika semua berjalan dari titik nol demi keinginan agar anak-anak dari keluarga paling rentan mendapatkan hak pendidikan yang bermartabat.
Kontribusi Tota melampaui tugas administratif biasa. Sejak masa persiapan yang intens pada Februari-Juni 2025, ia bersama jajaran staf Sentra Efata dan Dinas Sosial Kabupaten Kupang berjibaku menyusun ekosistem pendukung sekolah.
Spektrum kerjanya amat luas; mulai dari memimpin penyaringan ketat calon peserta didik di pelosok desa hingga memberikan pembekalan teknis bagi wali asuh, guru, dan jajaran pendidik.
Kebanyakan dari mereka adalah pegawai baru dengan status PPPK, dan akan bertugas untuk program pendidikan yang juga masih baru, sehingga masih membutuhkan pembekalan.
Melelahkan memang, semua dikerjakan dalam waktu terbatas. Untuk pembekalan saja dilangsungkan kurang dari empat bulan hingga tahun ajaran baru dimulai pada Juli.
Beruntung, berkat bimbingan dan supervisi ketat dari Tota, manajemen sekolah kini tertata mapan sehingga SRMP 19 sekarang mampu beroperasi dengan stabil di bawah kepemimpinan seorang kepala sekolah yang sebelumnya juga menjalankan pendidikan khusus oleh Kementerian Sosial di Jakarta.
Langkah strategis ini beranjak dari pemikiran bahwa memutus rantai kemelaratan tidak cukup hanya dengan bantuan sosial yang bersifat habis pakai. Intervensi harus menyentuh akar persoalan melalui penguatan kualitas manusia.
Urgensi Sekolah Rakyat di Kupang tersebut terekam jelas pada data Badan Pusat Statistik (BPS) per April 2026, di mana angka kemiskinan di Kabupaten Kupang mencapai 20,32 persen, angka yang timpang jauh dibandingkan rata-rata nasional sebesar 8,57 persen. Realitas ekonomi ini berkelindan dengan tingginya jumlah anak putus sekolah setingkat SD-SMP yang menjerat belasan ribu orang, menjadikan kehadiran SRMP 19 sebagai mercusuar harapan baru.
Dedikasi Tota benar-benar diuji saat ia harus menyisir calon siswa di tengah medan Pulau Timor yang menantang, dengan suhu udara mencapai 33 derajat Celsius. Dari sekitar 10.000 anak keluarga prasejahtera yang ada, ia memimpin penyaringan untuk mencari 100 individu pertama yang paling membutuhkan intervensi.
Proses ini bukanlah urusan di balik meja; Tota menjalankan instruksi Menteri Sosial Saifullah Yusuf untuk menjaring anak-anak keluarga miskin agar bisa bersekolah. Ia mengerahkan tim terbaik menyambangi 14 kecamatan yang jaraknya jauh hingga melintas pulau terpencil guna memverifikasi data calon siswa dengan kenyataan kondisi keluarga di lapangan.
Bahkan hampir setiap hari selama lima bulan penuh dia harus terlibat aktif dalam rapat koordinasi nasional persiapan operasional Sekolah Rakyat.
Soal ketepatan data siswa yang harus benar-benar membutuhkan menjadi salah satu yang diamanahkan pemerintah kepada setiap kepala sentra, selain urusan kesiapan fasilitas sarana prasarana, kesehatan dan asupan gizi calon peserta didik.
Humanis
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·