PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada PBS News pada Senin bahwa jika gencatan senjata dengan Iran berakhir pada Selasa, "maka banyak bom akan mulai meledak."
Pernyataan itu disampaikan selama panggilan telepon dengan koresponden Gedung Putih Liz Landers yang berfokus pada perang Iran, sementara delegasi AS sedang mempersiapkan pembicaraan perdamaian lebih lanjut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Trump mengatakan kepada Bloomberg seperti dilansir The Hill pada kesempatan terpisah bahwa gencatan senjata, yang dimulai pada 8 April, berakhir pada "Rabu malam waktu Washington." Ia menambahkan bahwa dia "sangat tidak mungkin" untuk memperpanjangnya jika pemerintahannya dan pejabat Iran tidak dapat mencapai kesepakatan.
Trump telah berulang kali mengancam Iran dengan pemboman lebih lanjut, setelah 1.701 warga sipil, termasuk setidaknya 254 anak-anak, tewas dalam 39 hari pertama serangan AS-Israel sebelum gencatan senjata, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS.
Dengan tenggat waktu gencatan senjata yang semakin dekat, para pejabat pemerintahan Trump akan menuju Islamabad, Pakistan, pekan ini untuk putaran kedua pembicaraan perdamaian.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada The Hill pada Ahad bahwa Wakil Presiden JD Vance akan memimpin delegasi tersebut, termasuk utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu presiden.
Trump mengatakan delegasi AS sedang menuju Islamabad, Pakistan, untuk putaran kedua negosiasi dengan Iran—setelah putaran pertama perundingan pada 11-12 April lalu gagal menghasilkan kesepakatan.
Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menyatakan negosiasi AS-Iran akan dilanjutkan dalam 24 jam ke depan. Ia menambahkan bahwa perjanjian gencatan senjata dengan Iran, yang berakhir pada 22 April, mungkin diperpanjang.
Respon Iran
Iran telah mengirimkan sinyal yang beragam mengenai apakah mereka akan berpartisipasi dalam pembicaraan tersebut. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, seorang mediator kunci dalam pembicaraan tersebut, dilaporkan mengatakan kepada Trump bahwa blokade AS di Selat Hormuz merupakan "hambatan" bagi kelanjutan diplomasi.
Trump membantah bahwa Munir menyarankan dia untuk mencabut blokade tersebut dalam sebuah panggilan telepon dengan The Hill pada Senin pagi. Dalam sebuah unggahan di Truth Social kemudian pada hari itu, ia kembali menegaskan pendiriannya untuk mencapai kesepakatan sebelum AS mengizinkan kapal-kapal untuk datang dan pergi dari pelabuhan Iran.
Mengenai apakah pejabat Iran akan berada di Islamabad, Trump mengatakan kepada PBS News, "Saya tidak tahu." Esmaeil Baqaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan kepada wartawan pada Senin bahwa Teheran "tidak memiliki rencana untuk putaran negosiasi berikutnya" dengan AS.
"Maksud saya, mereka seharusnya ada di sana," kata Trump tentang pejabat Iran. “Kami setuju untuk berada di sana, meskipun mereka mengatakan tidak setuju. Tapi tidak, itu sudah direncanakan. Dan kita akan lihat apakah mereka ada di sana atau tidak. Jika mereka tidak ada di sana, itu juga tidak masalah.”
Ditanya apa yang diinginkannya dari negosiasi di Islamabad, Trump mengulangi bahwa Iran “tidak boleh memiliki” senjata nuklir.
“Kami tidak menegosiasikan apa pun selain fakta bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir,” katanya kepada PBS News. “Dan itu cukup mendasar jika Anda menelaahnya lebih dalam.”
Sementara saat ditanya soal konflik kepentingan Kushner yang memiliki bisnis dengan negara-negara Teluk, Trump mengatakan,” Yah, dia pernah berada di sana sebelumnya, sudah lama sekali, dan dia murni bernegosiasi agar mereka (Iran) tidak memiliki senjata nuklir. Terlepas dari apakah Anda memiliki bisnis atau tidak, semua orang tahu bahwa itu adalah hal yang benar. Dia adalah negosiator yang sangat baik.”
Trump mengklaim menantunya tidak lagi terlibat bisnis dengan Arab Saudi. “Dia sudah... Dia tidak melakukan itu. Dia punya bisnis, tetapi dia tidak lagi terlibat.”
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk di Teheran, hingga menyebabkan kerusakan dan jatuhnya korban sipil. Iran menanggapi dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu.
Menyusul gagalnya negosiasi pertama pada 12 April di Islamabad, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, guna memaksa Teheran kembali ke meja perundingan. Teheran membalas dengan menutup kembali Selat Hormuz untuk kapal-kapal kompersial.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·