Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 50 persen terhadap China pada Selasa (14/4/2026). Ancaman ini dilontarkan menyusul adanya laporan intelijen yang menduga Beijing sedang mempertimbangkan pengiriman sistem pertahanan udara ke Iran.
Kebijakan proteksionis tersebut akan diterapkan jika China terbukti menyuplai peralatan militer kepada pemerintah Teheran. Dilansir dari Detik Finance melalui CNBC, besaran tarif tersebut dinilai Trump sebagai angka yang mengejutkan bagi mitra dagangnya tersebut.
"Jika kita tahu mereka melakukan itu, mereka akan dikenakan tarif 50 persen, jumlah yang mengejutkan," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Meski memberikan peringatan keras, ia mengaku masih meragukan keakuratan data intelijen yang menyebut adanya aktivitas pengiriman tersebut.
Berdasarkan laporan internal dari CNN, penilaian intelijen Amerika Serikat mengindikasikan potensi pengiriman rudal permukaan-ke-udara portabel atau MANPADS dari China. Namun, hingga saat ini otoritas resmi di Beijing belum memberikan konfirmasi atau pernyataan resmi terkait dugaan suplai militer tersebut.
Ketegangan ini terjadi di tengah spekulasi mengenai peran diplomasi China dalam konflik Iran dan Amerika Serikat. The New York Times sebelumnya melaporkan bahwa Beijing sempat berupaya menekan Iran agar menyepakati gencatan senjata dengan Washington guna menjaga kestabilan kawasan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa negaranya tetap konsisten mendorong dialog damai. Meskipun demikian, pihak kementerian tidak mengonfirmasi apakah China secara resmi bertindak sebagai mediator dalam perselisihan antar kedua negara tersebut.
Dylan Loh, pengamat kebijakan global dari Nanyang Technological University, menilai langkah China cenderung sangat berhati-hati dalam isu Timur Tengah. Jika terbukti mengirim senjata, hal itu akan menandai perubahan besar dalam pendekatan diplomatik China meskipun dampak militernya mungkin terbatas.
Sejauh ini, belum ditemukan bukti otentik mengenai bantuan finansial atau militer langsung dari China kepada Iran. Dukungan Beijing selama ini lebih bersifat pragmatis dan didorong oleh ketergantungan ekonomi pada jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.
Zongyuan Zoe Liu, peneliti senior di Council on Foreign Relations, menambahkan bahwa ekonomi Beijing sangat bergantung pada ekspor jalur laut. Risiko penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang dinilai akan menyebabkan kerentanan ekonomi yang signifikan bagi China.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·