Trump dan Xi Jinping Bahas Krisis Iran hingga Perang Dagang di Beijing

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai pertemuan tingkat tinggi dengan Pemimpin China Xi Jinping di Beijing pada Kamis, 14 Mei 2026, untuk membahas agenda krusial mulai dari konflik Timur Tengah hingga persaingan teknologi AI global. Kunjungan yang dijadwalkan berlangsung selama 24 jam tersebut menjadi momentum penting dalam upaya kedua negara menyelaraskan kembali hubungan bilateral yang penuh ketegangan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan saat melakukan perjalanan menuju Beijing bahwa Washington akan mendesak bantuan China terkait krisis di Iran. Dilansir dari The Guardian, pihak Beijing berharap pertemuan ini dapat digunakan untuk mengatur ulang ikatan kedua negara dan membangun landasan bagi hubungan perdagangan yang stabil dan dapat diprediksi di masa depan.

Duta Besar China untuk AS, Xie Feng, memberikan penekanan mengenai posisi strategis hubungan kedua negara ini melalui surat kabar resmi Partai Komunis China pada hari Kamis.

"Against the backdrop of escalating international instability, the strategic significance of Sino-US relations is even more prominent." ujar Xie Feng, Duta Besar China untuk AS.

Pemerintah Trump dikabarkan telah membicarakan pembentukan Dewan Perdagangan dengan China untuk mengatasi perbedaan komersial di antara kedua negara. Di sisi lain, Beijing ingin mendorong Trump agar melunakkan dukungan AS terhadap Taiwan, meskipun banyak pihak di Beijing mengakui kemungkinan tersebut sangat kecil untuk terwujud.

Pertemuan ini merupakan yang pertama dari sekitar empat pertemuan kepresidenan yang diharapkan terjadi pada tahun ini. Meski kunjungan hanya berlangsung selama dua hari, Trump dan Xi diprediksi memiliki banyak waktu untuk berinteraksi secara mendalam mengenai berbagai isu strategis.

Kondisi lingkungan di ibu kota China menjadi sorotan karena kualitas udara yang memburuk dibandingkan kunjungan pertama Trump pada tahun 2017. Saat ini, indeks kualitas udara di Beijing berada di atas angka 150, yang berarti jauh melampaui pedoman kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena kabut asap polutan yang menyelimuti kota.

Pada dekade lalu, otoritas China melakukan tindakan darurat seperti penghentian produksi pabrik dan pelarangan kendaraan berpolusi tinggi untuk menyambut tamu negara. Namun, pada kunjungan kali ini tidak terlihat adanya upaya khusus serupa dari pemerintah setempat untuk menjernihkan langit Beijing meskipun tingkat polusi masih sering terjadi.