Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran melalui media sosial Truth Social pada Rabu, 22 April 2026, guna menginstruksikan militer mengisi kembali persediaan senjata. Keputusan ini diambil saat pembicaraan putaran kedua di Pakistan mengalami kebuntuan setelah Teheran menolak berpartisipasi akibat ancaman Washington.
Donald Trump menjelaskan bahwa periode penangguhan serangan ini akan dimanfaatkan Washington untuk memperkuat logistik militer. Namun, ia juga menduga pihak Teheran melakukan langkah serupa dengan memindahkan rudal di wilayah mereka.
"Kami diminta menunda serangan kami terhadap Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka bisa mengajukan proposal yang terpadu," tulis Trump.
Selain pengumuman tersebut, Trump menegaskan bahwa blokade maritim terhadap aset Iran akan tetap berjalan secara ketat. Hal ini dilakukan demi menjaga kesiapan tempur pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
"Oleh karena itu, saya sudah menginstruksikan Militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu," tulis Trump.
Kepada CNBC, Trump menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan aksi militer jika kesepakatan besar yang melampaui perjanjian nuklir 2015 gagal dicapai. Ia juga mengonfirmasi penyitaan kapal kargo TOUSKA milik Iran yang diduga membawa muatan dari China.
"siap untuk bertindak" kata Trump.
Pakar kebijakan luar negeri Amerika Serikat, Barbara Slavin, menilai perpanjangan gencatan senjata ini merupakan upaya Trump menutupi kegagalan diplomasi. Menurut Slavin, AS dalam posisi dilema karena perang tidak berjalan sesuai rencana semula.
"[Pernyataan itu adalah] cara untuk menutupi rasa malu karena AS siap mengirim wakil presiden ke Pakistan sementara Iran tidak siap melakukan hal yang sama," kata Slavin, dikutip Al Jazeera.
Slavin menambahkan bahwa Iran saat ini memiliki pengaruh besar melalui kendali mereka di Selat Hormuz. Ia menyarankan agar Amerika Serikat mulai melunakkan tuntutan maksimal mereka jika ingin mencari solusi nyata.
"Perang ini tidak berjalan sesuai harapannya sejak awal, dan Iran telah menemukan pengaruh baru dalam kendalinya atas Selat Hormuz," kata Slavin.
Pihak Iran merespons dingin kebijakan Washington dan menganggap perpanjangan tersebut tidak berarti selama blokade masih berlangsung. Penasihat senior ketua parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, bahkan menuding langkah Trump hanyalah taktik pengalihan.
"taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak," tuduh Mohammadi.
Mohammadi menegaskan bahwa tindakan Amerika Serikat yang memblokade kapal-kapal berbendera Iran di pelabuhan merupakan bentuk agresi. Menurutnya, pihak yang berada di posisi kalah tidak seharusnya mendikte persyaratan gencatan senjata.
Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan tetap berangkat ke Islamabad bersama utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner. Meski demikian, Iran belum mengonfirmasi kehadiran mereka sebelum blokade angkatan laut AS dicabut sepenuhnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·