Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mengkaji peluncuran kembali operasi militer berskala besar terhadap Iran dengan nama Operasi Sledgehammer jika gencatan senjata yang berlangsung sejak April 2026 mengalami kegagalan. Langkah strategis ini muncul di tengah kebuntuan upaya diplomatik dan meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Rencana perubahan nama dari sebelumnya Operasi Epic Fury tersebut mencerminkan kesiapan militer Washington untuk memulai kembali pertempuran jika situasi memburuk. Informasi ini dilansir dari Detikcom melalui laporan NBC News dan Anadolu Agency pada Rabu (13/5/2026).
Di sisi lain, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, mengungkapkan bahwa sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel telah dikerahkan ke Uni Emirat Arab (UEA). Pengiriman baterai pertahanan tersebut dilakukan saat pertempuran melawan Iran berkecamuk beberapa bulan lalu untuk memperkuat keamanan wilayah sekutu.
Huckabee memberikan penjelasan detail mengenai keterlibatan personel militer dalam operasi pertahanan udara tersebut saat berbicara dalam sebuah konferensi di Tel Aviv University pada Selasa (12/5).
"baterai pertahanan udara Iron Dome, beserta para personel yang mengoperasikannya, dikerahkan ke UEA selama pertempuran melawan Iran berlangsung beberapa bulan lalu" kata Mike Huckabee, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel.
Terkait anggaran, Pentagon melaporkan pembengkakan biaya operasional dalam konflik yang dimulai sejak akhir Februari tersebut. Departemen Pertahanan Amerika Serikat mencatat total pengeluaran telah mencapai hampir US$ 29 miliar atau setara Rp 506,9 triliun, angka yang lebih tinggi US$ 4 miliar dibandingkan perkiraan dua pekan sebelumnya.
Menanggapi situasi ini, pihak Teheran melalui Fars News Agency menyatakan posisi tegas mengenai kelanjutan perundingan damai. Berdasarkan laporan pada Selasa (12/5), Iran menetapkan lima syarat mutlak bagi Washington untuk membangun kembali kepercayaan sebelum memulai negosiasi putaran kedua.
Sementara itu, dinamika global semakin memanas setelah Rusia mengonfirmasi pelaksanaan uji coba rudal jarak jauh berkemampuan nuklir pada Selasa (12/5). Langkah Moskow ini dilakukan setelah berakhirnya perjanjian pembatasan senjata nuklir New START dengan Amerika Serikat pada Februari lalu.
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·