UEA Halau Ribuan Serangan Rudal Iran Sejak Februari 2026

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, mengonfirmasi bahwa negaranya telah menjadi sasaran ribuan rudal dan drone kiriman Iran sejak Rabu, 28 Februari 2026. Meski mendapatkan serangan masif selama 40 hari terakhir, UEA mengklaim kondisi keamanan dalam negeri tetap stabil dan tangguh.

Pernyataan tersebut disampaikan Abdulla setelah melakukan pertemuan dengan Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu, 15 April 2026. Dilansir dari Detikcom, sistem pertahanan udara UEA tercatat mampu menetralisir mayoritas ancaman yang masuk ke wilayah kedaulatan mereka.

Data statistik menunjukkan terdapat hampir 2.850 rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke arah UEA. Dari total serangan tersebut, Abdulla mengungkapkan bahwa sebanyak 96 persen berhasil dicegat, sementara hanya 4 persen yang mampu menembus pertahanan udara militer Uni Emirat Arab.

"Kami telah menjadi sasaran dan dihantam oleh hampir 2.850 rudal dan drone dari Iran. Sebanyak 96% dari serangan-serangan tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara kami," kata Abdulla Salem Al Dhaheri, Dubes UEA untuk Indonesia.

Abdulla menegaskan bahwa pihak UEA bukanlah inisiator dari agresi bersenjata yang terjadi saat ini. Menurutnya, UEA bersama negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) telah berupaya maksimal untuk melakukan langkah pencegahan perang sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu.

Selain ancaman langsung berupa serangan udara, Abdulla juga menyoroti tindakan Iran yang memblokade Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan rute krusial bagi distribusi energi dan pangan global yang berdampak langsung pada ekonomi banyak negara.

Blokade pada Selat Hormuz menyebabkan terhambatnya distribusi sekitar 20 persen produksi minyak kawasan Timur Tengah untuk kebutuhan dunia. Selain komoditas energi, sekitar 70 persen produksi pupuk yang melewati jalur tersebut juga ikut terdampak akibat situasi ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tersebut.