Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban secara resmi mengakui kekalahannya dalam pemilihan parlemen yang diselenggarakan Minggu (12/4) dari Peter Magyar. Kekalahan ini mengakhiri 16 tahun kekuasaan Orban dan menandai era baru bagi politik Hungaria, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Hasil awal dari Kantor Pemilihan di Budapest pada Minggu malam, dengan 46% suara telah dihitung, menunjukkan Partai Tisza pimpinan Magyar diproyeksikan meraih 68% kursi parlemen. Angka ini jauh melampaui Partai Fidesz milik Orban yang hanya memperoleh 29% kursi.
Di hadapan para pendukungnya, Orban menyatakan hasil tersebut terasa "menyakitkan" baginya. Ia juga telah menyampaikan ucapan selamat kepada Magyar atas kemenangan tersebut, menandakan transisi kekuasaan yang bersejarah di negara tersebut.
Pemungutan suara kali ini mencatat partisipasi warga Hungaria dalam jumlah rekor tertinggi dalam sejarah pasca-Komunis Hungaria, mencapai hampir 78% pemilih yang memenuhi syarat. Tingginya antusiasme pemilih menunjukkan keinginan kuat akan perubahan di tengah pemerintahan Orban yang dinilai semakin otoriter.
Pemilihan ini menjadi referendum terhadap kepemimpinan Orban, yang telah menjabat selama 16 tahun dan berupaya meraih kemenangan pemilu kelima berturut-turut. Peter Magyar, dalam kampanyenya, menekankan pemilu ini sebagai kesempatan terakhir untuk menjaga Hungaria, anggota NATO dan Uni Eropa, agar tidak semakin terperosok ke dalam pengaruh Rusia.
Magyar, seorang konservatif yang dua tahun lalu masih menjadi anggota Partai Fidesz pimpinan Orban, berhasil menarik perhatian publik dengan fokus pada isu korupsi dan stagnasi ekonomi. Ia secara aktif berkampanye di berbagai kota, menarik banyak massa yang menginginkan pergeseran politik.
Beberapa analis memperkirakan Partai Tisza dapat memenangkan hingga dua pertiga kursi di parlemen. Kemenangan mayoritas super ini akan memberikan Tisza kekuasaan untuk mengubah konstitusi Hungaria, sebuah kekuatan yang sebelumnya dimanfaatkan secara luas oleh Fidesz.
Pada tahun 2011, di bawah kepemimpinan Orban, pemerintahan Fidesz mengesahkan "Undang-Undang Dasar" yang membatasi kebebasan media dan menurunkan usia pensiun bagi hakim. Kebijakan ini, menurut para kritikus, memungkinkan Fidesz untuk menyingkirkan hakim yang tidak disukainya, memperkuat cengkeraman kekuasaan mereka.
Dora, seorang pengacara berusia 30 tahun yang berkumpul di tepi Sungai Danube menunggu hasil pemilu, mengungkapkan harapannya. "Kami telah menunggu ini sejak lama. Sangat lama," katanya. "Sejak saya mulai memperhatikan, inilah hidup saya. Sebenarnya, ini pertama kalinya saya optimis dengan hati-hati."
Kekalahan Orban ini mendapat perhatian ketat dari Brussel dan negara-negara Uni Eropa. Kritikan terhadap Orban mencakup dugaan erosi demokrasi, kebebasan media, dan hak minoritas di Hungaria selama masa kepemimpinannya.
Perdana Menteri Orban dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin. Hasil pemilu ini berpotensi mengguncang peta kekuatan politik di Barat dan memiliki implikasi luas bagi geopolitik Eropa, termasuk hubungan dengan Rusia dan Amerika Serikat.
Bagi Ukraina, yang berbatasan dengan Hungaria, kekalahan Orban berpotensi membuka jalan bagi pencairan pinjaman Uni Eropa senilai 90 miliar euro. Dana tersebut sangat penting untuk mendukung upaya perang Kyiv melawan Rusia, dan selama ini sempat terhambat karena kebijakan Orban.
Kampanye Orban gencar menyerukan menjaga harga bahan bakar tetap rendah bagi konsumen dengan membeli minyak dan gas murah dari Rusia. Namun, tawaran perubahan dari oposisi Tisza, yang menekankan penyelesaian korupsi dan perbaikan ekonomi, tampaknya lebih menarik bagi masyarakat.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·