Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menekankan pentingnya kontribusi industri event dan MICE (Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran) terhadap pertumbuhan sektor pariwisata di Indonesia.
"Event dan MICE itu memiliki multiplier effect (terhadap sektor pariwisata). Event tidak hanya menghadirkan aktivitas saja tapi juga menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi destinasi pariwisata maupun juga masyarakat Indonesia," ujar Ni Luh dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa.
Ni Luh menyoroti wisatawan yang datang untuk mengikuti sebuah acara atau bisnis pada umumnya memiliki tingkat keinginan belanja yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang memiliki minat terhadap wisata leisure.
Potensi tersebut diyakininya dapat terus mengembangkan dan memperkuat peran industri event dan MICE sebagai salah satu pilar strategis dalam ekosistem pariwisata Indonesia.
"Pertumbuhan ini didorong oleh berbagai tren global termasuk berkembangnya hybrid event. Setelah pandemi COVID-19, ini kita ketemu ada hybrid event, kemudian juga kebutuhan corporate travel dan juga penguatan infrastruktur convention di berbagai negara," ujarnya.
Baca juga: Senior Happy Run 5K ajak lansia hidup sehat dan promosikan wisata RI
Dia melanjutkan ke depan, penguatan industri event pariwisata nasional perlu diarahkan kepada beberapa hal di antaranya melakukan penguatan regulasi dan tata kelola untuk memberikan arah bagi pengembangan industri, penguatan kapasitas, dan standardisasi industri termasuk penguatan konektivitas serta sistem pendukung.
Berikutnya adalah pengembangan infrastruktur dan portfolio IP event yang berdaya saing dan berkelanjutan, penguatan ekosistem yang mendorong investasi dan skema insentif lebih adaptif.
Pengembangan industri event pariwisata juga diarahkan pada penguatan pemasaran dan promosi pelindungan hak kekayaan intelektual serta penerapan prinsip keberlanjutan yang berstandar internasional.
"Industri event itu diharapkan tidak hanya tumbuh tapi juga semakin berkualitas, berdaya saing global dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian bangsa ini," kata dia.
Ni Luh juga menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025 sektor pariwisata menunjukkan tren yang positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun itu Indonesia telah kedatangan sebanyak 15,39 juta wisatawan mancanegara.
Baca juga: Kemenpar lakukan penyesuaian strategi pemasaran hadapi krisis global
Capaian itu telah melebihi target yang ditetapkan yakni 14-15 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Di sisi lain, total rata-rata pengeluaran wisatawan per kunjungan menyentuh 1.267 US dolar atau sekitar Rp21,83 juta.
Perjalanan wisatawan nusantara juga mencapai 1,2 miliar atau melampaui target yang tadinya 1,08 miliar perjalanan. Dari sisi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sektor pariwisata memberikan pemasukan sebesar 3,96 persen.
"Di sisi devisa sektor pariwisata juga mencatat kinerja yang positif dengan capaian sebesar 18,27 USD. Kita patut berbangga dengan capaian-capaian ini karena ini kerja sama bersama," ujarnya.
Hal lain yang dia tekankan yakni transformasi pariwisata di Indonesia hanya dapat terwujud dengan adanya kolaborasi pentahelix.
"Kementerian Pariwisata tentu akan terus hadir sebagai mitra strategis bagi industri event Indonesia sekaligus mendorong penguatan kolaborasi dan pengembangan industri pariwisata ke depannya. Dengan fondasi kolaborasi yang kuat tersebut kita memiliki peluang besar untuk membawa industri event Indonesia ke level yang lebih tinggi," tambahnya.
Baca juga: Wamenpar sebut DXI 2026 jadi momentum kuasai wisata petualangan global
Baca juga: Menpar nilai Bali Spirit Festival tunjukkan KI asal RI berkelas dunia
Baca juga: Wamenpar nilai desa wisata di Jatim contoh sukses penggerak ekonomi
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·