Kebijakan penunjukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai calon eksportir tunggal sawit memicu kekhawatiran yang membuat harga Tanda Buah Segar (TBS) jatuh di berbagai daerah pada Selasa (26/5/2026).
Sejumlah asosiasi petani hingga pengusaha sawit langsung mengadukan kemerosotan harga tersebut kepada Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono di Jakarta, seperti dilansir dari Money.
Kementerian Pertanian mengidentifikasi sebanyak 139 pabrik kelapa sawit (PKS) di seluruh wilayah Indonesia telah menurunkan harga TBS secara sepihak, padahal harga acuan di setiap provinsi sebelumnya sudah disepakati bersama pemerintah daerah.
"Diidentifikasi bottleneck dari kejadian ini adalah adanya efek psikologis, kekhawatiran, ketidakpastian, dan ketidaktahuan atas kebijakan baru ekspor satu pintu oleh PT DSI," kata Mas Dar, sapaan akrab Sudaryono, saat ditemui di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Pemerintah kemudian menjelaskan mekanisme kerja PT DSI guna memberikan kepastian bagi pelaku usaha agar harga pembelian TBS di tingkat pabrik bisa segera pulih dan mematuhi regulasi setempat.
"Diharapkan terjadi penyesuaian pembelian TBS sebagaimana harga acuan CPO yang ditetapkan di wilayah masing-masing," tutur Mas Dar.
Sudaryono menjelaskan bahwa PT DSI hanya akan bertindak sebagai pengawas dan pemantau ekspor sawit pada masa transisi periode 1 Juni hingga 31 Agustus guna mencegah praktik kecurangan seperti under invoicing.
"Tidak dipungut biaya atau mengambil keuntungan transaksi. Jadi kalau ada isu-isuseolah-olah PT DSI nanti mengambil untung, ini enggak," kata Mas Dar.
Selanjutnya, pengalihan ekspor melalui PT DSI secara sukarela dimulai pada 1 September hingga 31 Desember, sebelum kewajiban penuh diterapkan per 1 Januari 2027 untuk komoditas sawit, batubara, dan paduan besi.
Oleh karena itu, Sudaryono mengimbau seluruh petani dan pelaku usaha sawit untuk tetap menjalankan aktivitas operasional secara normal selama tahapan transisi ini berjalan.
"Jadi ini kan kekhawatiran seolah-olah nanti gimana ya gimana ya gimana ya, nah itu bisa di ini kekhawatiran itu bisa dihilangkan dan kegiatan usaha bisa berjalan sebagaimana mestinya kemudian sambil kita mengikuti tahapan-tahapan transisi ini," tutur Mas Dar.
Merespons situasi tersebut, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung menyatakan harapannya agar stabilitas harga bisa segera kembali setelah adanya koordinasi ini.
"Tentu harapan kami peristiwa ambruknya harga TBS kami bisa segera pulih sembuh setelah ada pertemuan ini," ujar Gulat.
Berdasarkan data Apkasindo, penurunan rata-rata harga TBS sawit berkisar antara Rp 600 hingga Rp 1.500 per kilogram, dengan dampak paling tajam dirasakan oleh petani swadaya.
Saat ini, harga TBS di tingkat petani swadaya merosot ke angka Rp 1.800 sampai Rp 2.200 per kilogram, padahal standarnya mencapai Rp 3.600 per kilogram, sedangkan untuk petani bermitra idealnya mencapai Rp 4.000 per kilogram.
"(Harga hari ini) Rp 1.800 sampai Rp. 2.200 Itulah ring Petani Swadaya Petani yang Bermitra, Plasma itu rata-rata Rp 3.600," tuturnya.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·