Pasar Surat Utang Negara (SUN) mencatatkan aksi beli yang signifikan pada perdagangan Kamis (7/5/2026) yang memicu penurunan imbal hasil atau yield di seluruh tenor. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, fenomena ini didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah yang memberikan sentimen positif bagi para investor domestik.
Stabilitas mata uang Garuda yang kembali bergerak di bawah level Rp17.400 per dolar AS menjadi faktor utama kembalinya aliran modal ke instrumen obligasi. Kondisi ini membalikkan situasi dari hari sebelumnya yang sempat tertekan oleh aksi jual masif di pasar surat utang.
| 4 Tahun | 20 | 6,51% |
| 7 Tahun | 17,9 | 6,65% |
| 5 Tahun | 16 | 6,57% |
| 10 Tahun (Acuan) | 9,8 | 6,63% |
Sentimen global turut berperan dalam perbaikan pasar seiring meningkatnya optimisme kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang menekan permintaan aset dolar. Penguatan mata uang yuan China serta mata uang Asia lainnya juga memberikan ruang tambahan bagi rupiah untuk bergerak lebih stabil di pasar spot.
Berdasarkan data hingga 30 April, investor mencatatkan arus modal masuk sebesar US$263,2 juta secara harian atau mencapai US$476,8 juta secara mingguan. Meskipun pasar menunjukkan tren positif, para pelaku pasar tetap mewaspadai risiko eksternal seperti arah kebijakan suku bunga The Fed dan fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Dari sisi domestik, investor tengah mencermati konsistensi Bank Indonesia dalam menstabilkan rupiah serta hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Penawaran yang masuk pada lelang SRBI terakhir melonjak 41,53 persen menjadi Rp39,99 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rp28,25 triliun.
Bank Indonesia hanya memenangkan nilai sebesar Rp2,46 triliun meskipun permintaan melonjak tajam karena otoritas moneter tersebut mempertahankan imbal hasil pada level 6,5 persen. Selain itu, kondisi fiskal Indonesia yang mencatatkan defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB per akhir Maret masih menjadi perhatian pelaku pasar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·