Ade Armando Mundur dari PSI Usai Dilaporkan Puluhan Ormas

Sedang Trending 38 menit yang lalu

Pegiat media sosial Ade Armando memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Selasa (5/5) di Jakarta Pusat. Keputusan ini diambil karena serangan publik terhadap dirinya dinilai mulai berdampak buruk pada citra partai tempatnya bernaung selama ini.

Langkah pengunduran diri tersebut diumumkan secara langsung melalui jumpa pers bersama Ketua Harian PSI Ahmad Ali di kantor DPP PSI, dilansir dari Detikcom. Ade menegaskan bahwa keputusan ini tidak dipicu oleh konflik internal melainkan demi kepentingan bersama.

"Melalui konferensi pers ini saya menyatakan mengundurkan diri dari PSI, ya. Tidak ada konflik antara saya dengan PSI, tapi saya mundur menurut saya demi kebaikan bersama," kata Ade.

Selama berstatus sebagai kader, mantan dosen tersebut mengakui sering menjadi sasaran kritik tajam akibat berbagai pernyataan kontroversial yang dilontarkannya di ruang publik. Ade merasa bertanggung jawab agar partai yang dipimpin Kaesang Pangarep itu tidak ikut menanggung beban dari komentar pribadinya.

"Selama ini saya terlalu sering jadi sasaran tembak akibat ucapan saya, komentar saya, kritik saya terhadap berbagai pihak," katanya.

Ade mengungkapkan kekhawatiran bahwa serangan yang meluas dapat mengancam nasib PSI pada masa mendatang. Meski pimpinan partai menyatakan dukungan moral, ia merasa tidak adil jika rekan-rekannya harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri.

"Masalahnya tadi saya katakan, yang harus bertanggung jawab sekarang bukan hanya saya, karena serangan itu diperluas, dari serangan terhadap saya juga terhadap teman-teman saya, termasuk misalnya Bu Grace," katanya.

Pria yang juga dikenal sebagai akademisi ini menambahkan bahwa pengurus partai selalu memberikan ruang bagi dirinya untuk tetap bertahan. Namun, ia tetap merasa perlu mengambil jarak agar tidak membebani organisasi.

"Di pihak lain, PSI sendiri pimpinan-pimpinan PSI selalu mengatakan bahwa mereka selalu bersedia atau mereka selalu berada bersama saya. Tapi tidak adil lah ya kalau bapak-bapak ibu-ibu di PSI harus juga menanggung akibat dari apa yang saya sampaikan," sambungnya.

Selain faktor tekanan publik, terdapat informasi mengenai adanya penolakan dukungan dari pihak luar jika dirinya masih terdaftar sebagai anggota. Hal ini diketahui dari surat-surat yang masuk ke pimpinan pusat partai.

"Bahkan ya mungkin Pak Ali bisa cerita, ada orang-orang kirim surat ke Pak Ali dan bilang bahwa, ini bukan Pak Ali ngadu ya, tapi kita baca sama-sama surat-suratnya yang mengatakan bahwa, 'Nggak bisa nih selama Ade Armando masih ada di sana, kita nggak akan dukung PSI'," kata Ade.

Situasi semakin meruncing setelah adanya laporan kepolisian dari 40 organisasi masyarakat Islam terkait konten video yang menyinggung Jusuf Kalla. Serangan di media sosial tersebut kini secara spesifik turut menyeret nama besar PSI.

"Ada 40 organisasi Islam atau tokoh di bawah Pak Din Syamsuddin kalau nggak salah, itu datang ke polisi dan melaporkan saya. Kemudian ada yang dari Ambon, kemudian ada lagi satu lagi sekumpulan organisasi apa. Dan di medsos itu luar biasa serangannya. Dan bahkan menyangkut nama-nama besar ya, orang-orang terkenal nih yang turun tangan, ya bahkan Pak Din Syamsuddin itu menurut saya kan luar biasa, luar biasa di atas ya. Tapi serangannya itu bukan hanya ke saya. Buat saya untuk pertama kalinya serangannya diarahkan kepada PSI," katanya.

Ade menduga terdapat upaya sistematis dari kelompok tertentu untuk menjatuhkan dirinya sekaligus merusak elektabilitas partai. Ia menilai laporan tersebut merupakan bagian dari gerakan masif yang sudah direncanakan.

"Saya menangkap bahwa memang ada upaya sengaja nih beramai-ramai ingin menghabisi saya dan kemudian menghabisi PSI," katanya.

Terkait proses hukum, Ade menyatakan kesiapannya untuk menghadapi laporan tersebut tanpa niat untuk meminta pencabutan berkas. Ia bersikukuh bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk memprovokasi masyarakat terhadap tokoh manapun.

"Saya yakin juga laporan terhadap saya juga tidak akan dicabut nih, akan terus. Tapi saya merasa nggak bersalah, kok. Saya tidak pernah mengadu domba, memprovokasi, menghasut siapa pun, bahkan untuk membenci JK nggak pernah," katanya.

Ketua Harian PSI Ahmad Ali menyatakan pihaknya menerima keputusan pengunduran diri tersebut setelah melalui diskusi panjang. Partai menilai perlindungan terhadap kepentingan organisasi dan pribadi kader merupakan hal yang utama.

"Seperti yang saya sampaikan tadi bahwa diskusi panjang yang dilakukan oleh DPP maupun Bang Ade Armando kemarin kemudian mempertimbangkan segala aspek yang kemungkinan-kemungkinan akan terjadi di depan. Di sisi lain, bahwa kami juga menyadari tentunya untuk kepentingan partai dan kepentingan pribadi ini dua hal yang harus kemudian dijaga secara bersama-sama," ujar Ahmad Ali.

Ahmad Ali menjelaskan bahwa inisiatif mundur datang sepenuhnya dari Ade Armando yang menyadari realitas politik saat ini. Kekhawatiran Ade akan dampak laporan polisi secara masif dipandang sebagai alasan yang rasional oleh DPP PSI.

"Bang Ade mengajak kami berdiskusi untuk meyakinkan kami bahwa kalau ini tidak segera diterima, ini nanti bisa berdampak lebih luas terhadap partai. Karena pengalaman-pengalaman tadi selalu pernyataan Bang Ade selalu dihubungkan dengan PSI. Kali ini berbeda karena seperti dikatakan oleh Bang Ade tadi bahwa ini sudah dilakukan pelaporan secara masif," katanya.

Manajemen partai akhirnya sepakat bahwa langkah pelepasan status kader ini adalah jalan keluar terbaik untuk meredam polemik. PSI menghormati pilihan Ade sebagai bentuk tanggung jawab pribadi atas dinamika yang terjadi.

"Kemudian, atas dasar itu, kami pun kemudian menerima pertimbangan itu karena di sisi lain apa yang disampaikan oleh Bang Ade itu realitas dan masuk akal," katanya.