Amerika Serikat Blokade Kapal Tanker Minyak Iran di Teluk Oman

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemerintah Amerika Serikat memperketat blokade pelayaran di Laut Oman pada Senin, 20 April 2026, guna mencegah jutaan barel minyak mentah Iran mencapai pelanggan global. Dilansir dari Bloombergtechnoz, citra satelit menunjukkan penumpukan kapal supertanker di Pulau Kharg seiring upaya Teheran mengamankan stok di tengah hambatan maritim.

Data satelit Sentinel 1 Uni Eropa mengungkapkan satu kapal tanker minyak mentah sangat besar (VLCC) berkapasitas 2 juta barel bersandar di dermaga Pulau Kharg pada Senin. Sebanyak 13 kapal, yang sebagian besar merupakan VLCC, terpantau berlabuh di sisi timur pulau tersebut atau meningkat dua kali lipat dibandingkan periode sebelum blokade dimulai pada 13 April.

Amerika Serikat mengeklaim penghalang maritim mereka telah menghentikan sekitar 30 kapal Iran di Laut Oman. Angkatan Laut AS juga mengonfirmasi pencegatan dua kapal supertanker di Teluk Oman dan Laut Arab pekan ini, serta melakukan pemeriksaan fisik terhadap kapal Majestic X di Samudra Hindia dan kapal Tifani di rute menuju Selat Malaka.

Analis JPMorgan Chase & Co yang dipimpin oleh Natasha Kaneva memberikan catatan terkait dampak jangka panjang dari langkah pembatasan volume pengiriman minyak tersebut bagi Teheran.

"akan membatasi volume secara otomatis, bukan hanya secara finansial, sehingga menyisakan ruang yang jauh lebih sedikit untuk perdagangan alternatif, dan, seiring waktu, memaksa Iran mengurangi produksi," tulis analis JPMorgan Chase & Co, termasuk Natasha Kaneva dalam catatan tertanggal 21 April.

Meskipun demikian, Iran dinilai masih memiliki napas buatan melalui kapasitas penyimpanan cadangan yang besar di darat maupun di atas kapal tanker yang sedang bersandar. Lembaga FGE NexantECA menyebut Iran memiliki kapasitas penyimpanan 90 juta barel yang mampu mempertahankan level produksi 3,5 juta barel per hari hingga dua bulan ke depan.

Miad Maleki, peneliti senior di Foundation for Defense of Democracies, menjelaskan bahwa pengisian cadangan ke kapal tanker merupakan strategi bertahan untuk mengulur waktu.

“Mereka mengisi kapal tanker, hal itu memberi mereka waktu tambahan,” kata Miad Maleki, mantan pejabat Departemen Keuangan AS yang bekerja pada kebijakan sanksi selama masa jabatan pertama Trump, dan kini menjadi peneliti senior di lembaga kebijakan Foundation for Defense of Democracies.

Maleki menambahkan bahwa langkah ini memungkinkan Iran untuk terus beroperasi tanpa segera kehabisan ruang penyimpanan di tengah blokade.

“Jadi hal itu memberi mereka sedikit kelegaan karena tidak kehabisan kapasitas penyimpanan” untuk sementara waktu.

Iran saat ini menjadi eksportir minyak utama tunggal dari Teluk Persia setelah secara efektif menutup Selat Hormuz sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari 2026. Kapal-kapal Iran biasanya menonaktifkan sinyal posisi otomatis saat berlayar melalui Selat Hormuz hingga mencapai Selat Malaka untuk menghindari pelacakan radar internasional.