Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade meninjau langsung lokasi Jembatan Anduring di Nagari Anduring, Padang Pariaman, pada Sabtu (9/5/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan percepatan pembangunan kembali infrastruktur yang roboh akibat terjangan banjir bandang pada akhir 2025 tersebut.
Dilansir dari Detikcom, jembatan ini merupakan akses utama bagi sekitar 30 ribu penduduk di sejumlah nagari di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam. Sejak akses terputus, warga terpaksa menggunakan rakit kayu untuk menyeberangi aliran sungai yang deras, sementara kendaraan roda empat harus memutar puluhan kilometer.
Politikus Partai Gerindra tersebut menekankan bahwa pembangunan ini bersifat mendesak karena kelumpuhan mobilitas berdampak langsung pada sektor ekonomi dan pendidikan. Andre didampingi Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Elsa Putra Friandi, saat memantau progres perencanaan teknis.
"Ini sesuai permintaan masyarakat. Insyaallah awal Agustus DED-nya sudah selesai. Panjang jembatan yang akan dibangun 2 x 70 meter atau total 140 meter. Saat ini masih dalam proses kajian Balai Teknik Sungai di Solo karena kondisi sungai sudah melebar pasca galodo," kata Andre Rosiade, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI.
Setelah dokumen perencanaan rampung, Andre berencana menyerahkan laporan tersebut kepada Menteri Pekerjaan Umum. Hal ini bertujuan agar pendanaan proyek dapat segera dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Target kita, akhir 2026 ini pembangunan fisik jembatan sudah bisa dimulai. Saya akan kawal langsung di Jakarta agar anggarannya segera tersedia," ungkap Andre Rosiade.
Dalam kesempatan yang sama, Andre juga menyoroti progres Jembatan Sikabu yang masih terkendala masalah administrasi di tingkat pemerintah daerah. Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman segera menuntaskan berkas yang diperlukan agar penganggaran dapat diusulkan.
"Kalau administrasinya selesai, DED juga akan segera tuntas dan kita dorong untuk dianggarkan," ujar Andre Rosiade.
Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friandi, menjelaskan bahwa proyek ini diperkirakan membutuhkan biaya hampir Rp49 miliar. Rencana konstruksi mencakup penggunaan rangka baja tipe B70 dengan pondasi bor pile berdiameter 800 mm untuk mengantisipasi perubahan arus sungai.
"Jembatan ini akan menggunakan rangka baja dengan satu pilar di tengah. Untuk desain teknisnya, kami masih melakukan asistensi dengan Balai Teknik Sungai agar pondasi dan proteksi abutment benar-benar sesuai dengan karakter sungai setelah galodo," tutup Elsa Putra Friandi, Kepala BPJN Sumbar.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·