Aspermigas Soroti Target Lifting Minyak 2027 yang Dinilai Stagnan

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) mengkritik target produksi siap jual atau lifting minyak bumi tahun 2027 yang dinilai stagnan dan hampir tidak mengalami peningkatan dari target tahun ini sebesar 610.000 barel per hari (bph).

Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Minggu (31/5/2026), pemerintah menetapkan target lifting minyak 2027 berada di rentang 602.000 hingga 615.000 bph dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.

Ketua Komite Investasi Aspermigas Moshe Rizal menganggap lonjakan realisasi lifting pada tahun 2025 menjadi 605.000 bph hanya terjadi karena dimasukkannya komponen natural gas liquid (NGL), bukan dipicu oleh kenaikan produksi riil dari investasi maupun eksplorasi hulu migas.

“Dari 2024—025 itu, naik itu karena definisi bukan karena real production peningkatan produksi. Itu yang kita selalu apa, warning kepada pemerintah. Jangan seperti itu, kalau naik produksi, naik bener gitu, jangan karena definisi. Di dalam angka 2025 itu, ternyata dimasukkan yang namanya NGL, natural gas liquid. Termasuk itu adalah LPG,” kata Moshe.

Moshe menambahkan bahwa akibat dari penambahan komponen tersebut, target pertumbuhan untuk masa depan menjadi lebih rendah karena tidak ada tambahan produksi yang signifikan dari wilayah kerja baru.

“Makanya jadi sekarang ya mungkin peningkatannya [target lifting 2027] lebih modest, ya artinya lebih enggak terlalu besar seperti yang 2025 dari 2024,” tegas Moshe.

Lebih lanjut, ia menerangkan struktur kimia NGL yang diekstrak dari gas alam dan biasanya dikategorikan ke dalam kelompok gas bumi, bukan minyak bumi.

“Nah panjangnya rantai karbon sama hidrogen itu yang menentukan kalau itu minyak mentah, kalau itu gas, kalau itu butana, kalau itu metana, propana itu dari panjang–pendeknya dari karbon chain tersebut. Jadi itu beda-beda, beda-beda produk sebenarnya. Nah LPG itu, itu diekstrak dari natural gas. Natural gas yang di dalamnya itu ada propan sama butanya, itu diekstrak,” ujar Moshe.

Aspermigas menilai penggabungan formula pencatatan ini sebagai langkah yang kurang tepat untuk mengukur performa produksi minyak mentah yang sebenarnya.

“Makanya biasanya LPG itu ya masuk ke dalam gas, bukan masuk ke dalam minyak, gitu loh. Kan lucu gitu kan,” tegas Moshe.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan langsung target pencapaian ini dalam sidang paripurna di Gedung Parlemen pada Rabu (20/5/2026).

Presiden Prabowo menyatakan penetapan rentang angka tersebut ditujukan sebagai strategi jangka panjang dalam menjaga ketahanan energi nasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Lifting minyak bumi ditargetkan 602.000 hingga 615.000 barel per hari,” ujar Presiden Prabowo.

Selain target tersebut, dokumen KEM-PPKF APBN 2027 menetapkan target lifting gas bumi di rentang 934.000—977.000 barel setara minyak bumi per hari (boepd) serta asumsi Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$70—US$95 per barel.

Menanggapi perdebatan tersebut, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memberikan klarifikasi mengenai landasan regulasi internasional yang melatarbelakangi penggabungan komponen fluida hidrokarbon tersebut.

“Untuk mencapai target APBN kita lihat kaji regulasi UU kontrak standar internasional molekul itu sendiri itu NGL yang merupakan bahan baku LPG gitu masuk ke mana, ketika kita masukan ke dalam bagian dari lifting kita bisa mencapai target APBN,” kata Djoko pada medio Februari lalu di hadapan Komisi XII DPR.

Djoko juga memaparkan fenomena fisik perubahan fasa gas menjadi cairan kondensat yang terjadi akibat penurunan temperatur di permukaan sumur.

“Seperti jalan pagi hari ada embun, pagi itu temperatur dingin, perubahan pagi udara terkondensasi menjadi embun, sama dengan gas jadi kondensat asalnya dari gas, tetapi begitu sudah terkondensasi masuklah menjadi minyak. Sejak zaman kita merdeka lifting kita terdiri dari minyak mentah dan kondensat,” tegas Djoko.

Berdasarkan data operasional, pencapaian lifting minyak Indonesia sepanjang tahun 2025 tercatat mencapai 605.800 bph termasuk kontribusi NGL sebanyak 24,2 bph, sementara realisasi tahun 2024 adalah sebesar 579.300 bph murni tanpa komponen NGL.