Bank Indonesia (BI) menyalurkan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp427,9 triliun kepada sektor perbankan hingga pekan pertama April 2026 demi mendorong likuiditas. Informasi penggelontoran dana stimulus makroprudensial ini dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (21/5/2026).
Gubernur BI Perry Warjiyo memerinci bahwa insentif tersebut terbagi dalam dua jalur utama. Alokasi pada lending channel tercatat mendominasi dengan nilai Rp358 triliun, sedangkan untuk interest rate channel menyerap anggaran sebesar Rp69,9 triliun.
Jika ditinjau dari kelompok perbankan, bank milik negara atau BUMN menjadi penerima KLM terbesar dengan jumlah Rp224 triliun. Posisi berikutnya ditempati oleh bank umum swasta nasional yang mendapatkan kucuran dana sebesar Rp166,6 triliun.
"Kemudian, Bank Perekonomian Daerah (BPD) sebesar Rp29,6 triliun, dan kantor cabang bank asing sebesar Rp7,8 triliun," ujar Perry, Gubernur BI.
Penyaluran stimulus likuiditas ini diarahkan langsung pada sejumlah sektor prioritas. Bidang yang menjadi sasaran mencakup sektor pertanian, industri, hilirisasi, serta sektor jasa yang di dalamnya termasuk industri ekonomi kreatif.
Selain itu, insentif makroprudensial ini juga mengalir ke sektor konstruksi, real estate, dan perumahan. BI pun mengalokasikan stimulus tersebut untuk mendukung sektor UMKM, koperasi, inklusi, serta proyek yang berkelanjutan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·