BPBD Cianjur: 86 KK korban longsor sudah kembali ke rumah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Faktor utama bencana alam di dua desa tersebut akibat cuaca ekstrem sehingga menyebabkan tebing yang terletak di belakang perkampungan longsor membuat puluhan rumah rusak, 25 diantaranya rusak berat

Cianjur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mendata sekitar 86 kepala keluarga di dua desa di Kecamatan Campaka, sudah kembali ke rumah setelah sempat mengungsi karena bencana alam longsor dan pergeseran tanah.

Sekretaris BPBD Cianjur Asep Sudrajat di Cianjur, Jumat, mengatakan bencana alam longsor dan pergeseran tanah melanda Desa Cibokor dan Sukajadi, sejak beberapa hari terakhir membuat 25 rumah rusak berat 61 dan rusak ringan.

Sebagian besar warga mengungsi ke rumah saudaranya yang dinilai aman dari longsor disertai pergeseran tanah, selang tiga hari warga sudah kembali ke rumahnya masing-masing namun diimbau tetap siaga dan waspada segera mengungsi ketika hujan turun deras.

"Faktor utama bencana alam di dua desa tersebut akibat cuaca ekstrem sehingga menyebabkan tebing yang terletak di belakang perkampungan longsor membuat puluhan rumah rusak, 25 diantaranya rusak berat," katanya.

Baca juga: Hujan deras, dua KK di Cianjur diungsikan karena terancam kena longsor

Penanganan bersama dilakukan petugas gabungan TNI/Polri, aparat desa dan kecamatan, relawan serta warga sekitar, dengan memasang pagar bambu di bawah tebing guna mengantisipasi longsor susulan seiring pergeseran tanah yang masih terjadi.

Bahkan pihaknya melalui aparat desa sudah menyalurkan bantuan logistik bagi warga selama mengungsi, serta membangun pengungsian terpusat di balai desa guna antisipasi ketika longsor kembali terjadi.

"Kami siagakan petugas dan relawan di lokasi bencana, guna melakukan pengawasan, pelaporan, dan penanganan cepat termasuk mengevakuasi warga ketika hujan turun deras dengan intensitas tinggi," katanya.

Seiring cuaca ekstrem yang masih melanda sebagian besar wilayah Cianjur, terutama pada petang dan malam hari, pihaknya meminta masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga segera mengungsi ketika melihat tanda alam akan terjadi bencana.

Termasuk warga yang tinggal di sepadan sungai mulai dari utara hingga selatan selalu meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan dalam menghadapi curah hujan tinggi yang dapat membuat debit air tinggi hingga menggenangi perkampungan.

"Kami terus melakukan pemantauan dan pengawasan di seluruh wilayah melibatkan 360 Relawan Tangguh Bencana (Retana), termasuk melakukan antisipasi dan penanganan cepat ketika terjadi bencana," katanya.

Baca juga: BPBD Sumedang: tiga rumah rusak berat akibat pergeseran tanah

Pewarta: Ahmad Fikri
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.