BPBD Sumedang perkuat mitigasi hadapi fenomena El Nino

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Sumedang (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumedang, Jawa Barat, memperkuat upaya mitigasi untuk menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.

Kepala Pelaksana BPBD Sumedang Bambang Rianto mengatakan mitigasi tersebut dilakukan dengan fokus pada penyediaan air bersih, penguatan patroli di wilayah rawan kebakaran, serta penyesuaian pola tanam pertanian.

“Fokus utama kami adalah mitigasi kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, serta dampaknya terhadap sektor pertanian. Semua itu harus diantisipasi sejak dini,” kata Bambang di Sumedang, Selasa.

Ia menjelaskan berdasarkan informasi BMKG, Sumedang masih berada pada masa transisi menuju musim kemarau, meski hujan masih terjadi di sejumlah wilayah.

Dirinya menambahkan bahwa dampak El Nino sendiri diprediksi akan mulai dirasakan pada awal Mei dengan puncak musim kering diperkirakan sekitar Agustus.

“Puncak El Nino diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus. Karena itu, kesiapan pemerintah dan masyarakat harus dimulai jauh sebelum kondisi terburuk terjadi, agar dampaknya bisa ditekan semaksimal mungkin,” ujarnya.

Menurut Bambang, seluruh wilayah di Kabupaten Sumedang memiliki tingkat kerawanan yang cukup signifikan terhadap dampak El Nino, sehingga pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipasi secara menyeluruh.

Untuk ancaman kebakaran hutan dan lahan, BPBD menyoroti Kecamatan Tomo dan Ujung Jaya sebagai wilayah yang kerap mengalami insiden serupa.

Selain itu, kawasan Gunung Palasari dan Gunung Kunci di wilayah Sumedang Kota juga menjadi fokus pengawasan karena memiliki potensi kebakaran saat musim kering.

Dalam mitigasi krisis air bersih, BPBD telah memetakan sumber mata air dan sumur bersama instansi terkait untuk mendukung kebutuhan daerah rawan kekeringan.

Sementara itu, pemerintah daerah mendorong penyesuaian pola tanam sesuai prediksi musim serta penggunaan varietas tahan kekeringan seperti padi gogo, jagung, dan sorgum.

Langkah tersebut dilakukan untuk menekan risiko gagal panen sekaligus menjaga produktivitas pangan selama musim kering berlangsung.

Selain penguatan sarana, BPBD mengandalkan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di sejumlah wilayah sebagai tenaga sukarelawan dalam penanganan kebakaran.

Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan melalui kampanye hemat air, adaptasi iklim, hingga pembuatan embung dan kolam penampungan.

“Mitigasi tidak cukup hanya dari pemerintah. Partisipasi masyarakat untuk menghemat air, menjaga lingkungan, dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar menjadi faktor penentu keberhasilan menghadapi El Nino,” katanya.

Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.