Pemerintah India melayangkan kecaman keras pekan lalu terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut negara tersebut sebagai "lubang neraka" dalam unggahan media sosial. Hubungan diplomatik kedua negara kini berada di titik rendah akibat tekanan ekonomi dan sengketa kebijakan luar negeri.
Komentar tersebut bermula saat Trump membagikan potongan acara radio The Savage Nation yang berisi pernyataan kontroversial dari komentator Michael Savage. Dilansir dari Detikcom, ketegangan ini terjadi di tengah pergeseran pandangan publik India terhadap Washington yang kini dianggap lebih transaksional dibandingkan sebelumnya.
"Seorang bayi di sini langsung menjadi warga negara, lalu mereka membawa seluruh keluarga dari Cina atau India atau lubang neraka lain di planet ini." kata Michael Savage, Komentator Konservatif.
Kementerian Luar Negeri India segera merespons narasi tersebut dengan memberikan penegasan mengenai status hubungan bilateral. Pihak kementerian menilai pernyataan itu tidak mencerminkan realitas kemitraan strategis yang telah dibangun kedua negara selama puluhan tahun.
"Pernyataan tersebut jelas tidak berdasar, tidak pantas, dan tidak berkelas," tulis Kementerian Luar Negeri India.
Pemerintah di New Delhi menambahkan bahwa fondasi hubungan kedua negara seharusnya didasarkan pada rasa hormat yang mendalam. Hal ini menjadi krusial mengingat Amerika Serikat merupakan mitra dagang terbesar bagi India.
"Pernyataan tersebut jelas tidak mencerminkan realitas hubungan India-AS, yang telah lama didasarkan pada saling menghormati dan kepentingan bersama." tulis Kementerian Luar Negeri India.
Krisis kepercayaan semakin dalam setelah AS mengenakan tarif 50% terhadap India pada Juli 2025 karena pembelian minyak dari Rusia. Mantan diplomat India memberikan pandangan kritis mengenai dampak kebijakan ekonomi tersebut terhadap sentimen nasional.
"Menjadikan India sebagai sasaran atas pembelian minyak Rusia sambil memberi kelonggaran kepada pembeli lain (dan yang lebih besar) sulit dianggap sebagai hal lain selain tindakan bermusuhan," tulis Hemant Krishan Singh, Mantan Diplomat.
Singh menambahkan bahwa tindakan tersebut telah mengguncang pondasi kepercayaan yang selama ini dipelihara. Ketidakpastian kini menyelimuti dukungan publik India terhadap kerja sama masa depan dengan Amerika Serikat.
"Terjadi kemunduran dalam kepercayaan timbal balik, rasa percaya terguncang, ketidakpastian muncul, dan dukungan publik di India telah menurun," tulis Hemant Krishan Singh, Mantan Diplomat.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau memberikan pernyataan keras dalam forum Raisina Dialogue bulan lalu. Ia menekankan posisi Amerika Serikat dalam melihat posisi India di panggung global agar tidak mengulangi pola hubungan masa lalu.
"India harus memahami bahwa kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan India seperti yang kami lakukan dengan Cina." ujar Christopher Landau, Wakil Menteri Luar Negeri AS.
Mantan duta besar India untuk AS menilai penyampaian tersebut dalam forum strategis adalah bukti nyata perubahan paradigma pemerintahan Trump. Ia menyatakan banyak pejabat di New Delhi merasa tersinggung dengan pendekatan diplomasi baru ini.
"Itu merupakan puncak dari apa yang terjadi selama setahun terakhir. Fakta bahwa komentar ini disampaikan dalam forum strategis menunjukkan bagaimana pemerintahan AS memandang India," kata Navtej Sarna, Mantan Duta Besar India untuk AS.
Sarna juga menyoroti kehangatan hubungan antara Washington dan Pakistan sebagai faktor penambah keraguan. Sementara itu, di sektor ekonomi, pelemahan mata uang Rupee dan gangguan rantai pasok akibat perang Iran memperparah situasi domestik.
"India memutuskan untuk terus menjaga hubungan yang telah dibangun secara konsisten agar tidak kehilangan semuanya," kata Navtej Sarna, Mantan Duta Besar India untuk AS.
Kondisi ini turut mengubah arah narasi media dan influencer di India yang kini lebih kritis terhadap kepemimpinan Trump. Pakar disinformasi Karen Rebelo menjelaskan bahwa pemilih sayap kanan yang sebelumnya mendukung Trump kini mulai merasa frustrasi.
"Keduanya bertumpu pada agama, keduanya konservatif dan pro-perdagangan, keduanya melihat minoritas Muslim sebagai musuh," ujar Karen Rebelo, Jurnalis Independen.
Rebelo menekankan adanya keinginan kuat dari masyarakat India untuk memiliki kemandirian yang lebih besar di kancah internasional. Rasa iri mulai muncul ketika kebijakan AS mulai berdampak langsung pada kelangsungan bisnis menengah di India.
"Bahkan ada rasa iri. Mereka ingin India menjadi pihak yang menentukan, memiliki kekuatan untuk mengatur arah," ujar Karen Rebelo, Jurnalis Independen.
Pakar riset perilaku Sundeep Narwani mencatat bahwa sentimen anti-AS di India saat ini mencapai level tertinggi dalam beberapa periode terakhir. Perubahan ini terlihat jelas pada konten yang diproduksi oleh para kreator konten digital berpengaruh di negara tersebut.
"Sentimen anti-AS jelas berada di titik tertinggi dalam beberapa waktu terakhir," ujar Sundeep Narwani, Co-founder India Narrative Research Lab.
Narwani menambahkan bahwa saat ini terjadi pemerataan perspektif dalam pemberitaan media arus utama, terutama terkait konflik global. Dominasi narasi pro-Amerika yang biasanya muncul di televisi kini mulai diimbangi dengan pemberitaan yang lebih netral.
"Saluran TV sebelumnya lebih pro-Amerika, tetapi sekarang terlihat jelas adanya keseimbangan dalam pemberitaan." ujar Sundeep Narwani, Co-founder India Narrative Research Lab.
Pihak riset juga menyoroti bagaimana informasi geometris yang kompleks disederhanakan oleh influencer regional menjadi konten yang sangat emosional. Hingga saat ini, pemerintah India masih berusaha menyeimbangkan antara harga diri nasional dan kebutuhan strategis terhadap Washington.
"Saluran TV kini menampilkan korban dan kehancuran (dalam perang Iran) di kedua sisi secara setara. Koreksi dari simpati yang sebelumnya timpang adalah fenomena baru," ujar Sundeep Narwani, Co-founder India Narrative Research Lab.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·