BPS Catat Indonesia Resmi Masuki Fase Penuaan Penduduk

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Struktur demografi Indonesia resmi memasuki fase penuaan penduduk atau aging population karena penguatan tren peningkatan populasi lanjut usia yang signifikan. Fenomena tersebut terjadi setelah proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas secara nasional telah melampaui ambang batas minimal yang ditetapkan secara internasional.

Data tersebut bersumber dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sebagaimana dilansir dari Money. Laporan resmi tersebut menunjukkan bahwa persentase pencatatan kelomplok lanjut usia kini sudah menyentuh angka 11,97 persen dari total keseluruhan populasi warga negara.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memberikan penjelasan mengenai standardisasi pengkategorian struktur demografi penuaan penduduk tersebut pada awal Mei 2026. Standar baku internasional menetapkan kriteria ketat terkait proporsi minimal kelompok usia tua untuk menentukan status penuaan sebuah negara.

"Persentase lansia hasil SUPAS 2025 adalah sebesar 11,97 persen yang menunjukkan Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk atau ageing population," ujar Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.

Peningkatan konsisten grafik populasi tua di Indonesia terpantau terus berjalan dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Berdasarkan dokumentasi BPS, angka kelomplok lansia tercatat sebesar 7,59 persen pada 2010, tumbuh menjadi 8,47 persen pada 2015, menyentuh 9,93 persen pada 2020, hingga akhirnya melewati batas 11 persen.

Pergeseran struktur ini diiringi penurunan angka kelahiran total fertilitas (TFR) Indonesia ke level 2,13 yang mendekati replacement level sebesar 2,1 anak per perempuan. Sementara itu, kelompok usia produktif 15 hingga 64 tahun masih mendominasi porsi sebesar 68,94 persen, dengan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat angka lansia tertinggi mencapai 17,83 persen.

Kondisi transisi demografi ini turut memicu perhatian lembaga finansial internasional akibat potensi dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) menerbitkan analisis khusus mengenai transformasi struktur usia tersebut dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2025.

"Penuaan penduduk sering dikaitkan dengan prospek suram bagi pertumbuhan ekonomi dan keuangan publik," tulis IMF.

Lembaga tersebut memproyeksikan penurunan rata-rata pertumbuhan ekonomi global periode 2025-2050 sebesar 1,1 poin persentase jika dibandingkan periode 2016-2018. Dampak penyusutan pasokan tenaga kerja dan produktivitas ini juga menjadi fokus utama dalam kajian Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR).

"Penurunan pertumbuhan ekonomi akibat penuaan penduduk terutama disebabkan oleh penurunan pertumbuhan pasokan tenaga kerja," jelas Nicholas Maestas, Peneliti Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR).

Penelitian dari SIEPR tersebut mengalkulasi bahwa setiap kenaikan 10 persen populasi lansia berisiko menurunkan produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar 5,7 persen. Selain tekanan pada PDB, penuaan penduduk mengubah arah belanja domestik ke sektor kesehatan sekaligus meningkatkan rasio ketergantungan Indonesia menjadi 45,05.

Kenaikan angka ketergantungan ini berimplikasi langsung pada kesiapan sistem jaminan perlindungan sosial nasional jangka panjang. BPS menegaskan urgensi perbaikan infrastruktur jaminan sosial demi mengakomodasi pergeseran kebutuhan hidup kelompok masyarakat lanjut usia tersebut.

"Penuaan penduduk membawa implikasi penting terhadap penyediaan layanan sosial, kesehatan, dan sistem perlindungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan lansia," tulis BPS.

Data SUPAS 2025 memperlihatkan ketergantungan ekonomi lansia masih bertumpu pada lingkungan keluarga dekat dengan persentase sebesar 48,56 persen. Indonesia saat ini menghadapi tantangan untuk memacu produktivitas nasional sebelum masa keemasan bonus demografi usia produktif sepenuhnya berakhir.