Jakarta (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat kinerja penyaluran kredit kepada segmen komersial menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten sejak 2021 hingga 2025, dengan peningkatan hampir tiga kali lipat pada 2025 dibandingkan 2021.
Secara lebih rinci, kredit komersial BRI pada 2021 tercatat sebesar Rp20,8 triliun.
Kemudian, meningkat menjadi Rp38,7 triliun pada 2024, sebelum akhirnya melonjak pada 2025 hingga mencapai Rp61,4 triliun.
Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris YS, dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa perseroan memiliki fokus untuk mendorong pertumbuhan bisnis segmen komersial melalui penguatan value chain nasabah serta peningkatan transaksi.
Hal ini diwujudkan melalui transformasi bisnis BRI atau disebut "BRIvolution Reignite", khususnya pada pilar "Revamp Existing Core".
"Sebagai bank dengan DNA UMKM, BRI terus mendukung usaha menengah. Segmen middle market memiliki peran penting dalam rantai pasok perekonomian nasional, sekaligus menjadi penghubung antara UMKM dan korporasi besar dalam suatu ekosistem," ujar Dippo.
Perseroan menyampaikan bahwa komposisi portofolio pembiayaan menunjukkan diversifikasi yang solid dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional.
Kontribusi portofolio terbesar berasal dari sektor yang bersumber dari pembiayaan APBN (20 persen), diikuti oleh sektor energi (12 persen), konstruksi (11 persen), serta perdagangan (10 persen) dan pangan (10 persen), serta industri pengolahan (8 persen).
Sejalan dengan akselerasi tersebut, pangsa pasar segmen komersial BRI menunjukkan peningkatan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir, dari semula 2,1 persen pada 2021 menjadi 5,2 persen pada 2025.
Menurut perseroan, pertumbuhan ini mencerminkan keberhasilan strategi ekspansi yang semakin terarah, khususnya melalui pendekatan berbasis ekosistem yang memungkinkan BRI memperluas penetrasi pasar sekaligus memperluas basis nasabah secara lebih berkualitas.
Di sisi lain, catat perseroan, kualitas kredit juga menunjukkan perbaikan yang solid.
Loan at risk (LaR) mampu ditekan secara signifikan hingga 7,6 persen pada 2025, dari level yang lebih tinggi pada tahun-tahun sebelumnya.
Perbaikan ini berjalan seiring dengan penguatan fundamental bisnis, termasuk peningkatan dana murah (CASA) dan dana pihak ketiga (DPK), yang memastikan pertumbuhan kredit tetap sehat dan berkelanjutan.
Adapun BRI memberikan dukungan kepada usaha menengah melalui penyediaan pembiayaan yang komprehensif, mulai dari kredit modal kerja (working capital loan) untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek hingga kredit investasi (investment loan) untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Langkah ini bertujuan menjaga kelancaran operasional perusahaan sekaligus mendorong ekspansi usaha.
Khusus bagi nasabah komersial, BRI menghadirkan beragam produk pengelolaan kas yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis untuk mendukung efisiensi operasional, salah satunya melalui platform digital QLola by BRI.
Melalui QLola, nasabah dapat melakukan berbagai transaksi seperti pembayaran pajak, transfer online, dan pembayaran billing, sekaligus memantau kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh untuk menunjang pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat.
"Melalui ekosistem perbankan bisnis yang komprehensif, inovasi digital, serta program pemberdayaan yang relevan dengan kebutuhan pasar, BRI terus memperkuat perannya dalam mendorong UMKM dan perusahaan menengah untuk tumbuh sehat dan berkelanjutan," sebut Dippo.
Baca juga: BRI berdayakan 43.789 klaster usaha lewat program "Klasterku Hidupku"
Baca juga: BRI siap pacu kredit 2026, didukung kuatnya likuiditas dan permodalan
Baca juga: Momen Hari Kartini, BRI ungkap 43 persen pekerja merupakan perempuan
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·