Pakar Astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Profesor Thomas Djamaluddin meluruskan informasi yang menyebut fenomena El Nino dapat merenggut nyawa manusia secara langsung. Penegasan ini muncul sebagai tanggapan atas narasi yang beredar mengenai ancaman kesehatan akibat pemanasan suhu di Pasifik tropis tersebut.
Thomas mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi yang diterima terkait prakiraan cuaca ekstrem mendatang. Dilansir dari Detik iNET, El Nino diprediksi akan mulai terjadi pada pertengahan 2025 dengan dampak yang lebih dominan pada perubahan pola curaca.
"Ya, El Nino diprakirakan terjadi mulai pertengahan 2025. Tetapi El Nino tidak membahayakan secara langsung kepada kehidupan, manusia atau hewan," terang Profesor Thomas Djamaluddin melalui akun Instagram @t_djamal.
Peningkatan suhu global dipicu oleh pemanasan di wilayah Pasifik tropis yang berimbas pada pola cuaca di seluruh dunia. Meskipun tidak mematikan secara fisik, fenomena ini berpotensi menyebabkan kekeringan, banjir di wilayah tertentu, serta gelombang panas di laut.
"Tetapi El Nino tidak bikin orang sakit, apalagi kematian," tegas Thomas Djamaluddin.
Thomas menjelaskan bahwa karakteristik utama dari fenomena ini adalah durasi kemarau yang menjadi lebih panjang dan jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal. Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai ancaman kebakaran hutan akibat minimnya curah hujan.
Tahun 2026 diprediksi akan menjadi periode munculnya 'Super' El Nino yang berdampak signifikan pada suhu bumi. Berdasarkan analisis data suhu dari lima kelompok riset, situs lingkungan Carbon Brief memproyeksikan tahun tersebut hampir dipastikan masuk dalam daftar empat tahun terpanas sepanjang sejarah.
Estimasi model iklim terbaru menunjukkan adanya median pemanasan mencapai 2,2°C pada September 2026 mendatang. Skenario pemanasan global ini menempatkan kondisi iklim dunia dalam wilayah ancaman 'super' El Nino yang ekstrem.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·