Legislator: prioritaskan pembangunan DDT pascakecelakaan di Bekasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Proyek ini harus diprioritaskan

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi V DPR RI Rofik Hananto meminta agar percepatan pembangunan jalur ganda atau double-double track (DDT) diprioritaskan pascakecelakaan kereta api jarak jauh dan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat.

Menurut dia, percepatan pembangunan infrastruktur fisik perkeretaapian di kawasan aglomerasi penting dilakukan sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi beban jalur kereta yang sangat padat, seperti jalur Jakarta-Cikarang.

“Dengan adanya double track, frekuensi dan pergerakan kereta bisa lebih teratur, mengurangi kepadatan, serta meminimalisasi potensi konflik di perlintasan sebidang. Proyek ini harus diprioritaskan,” kata Rofik dalam keterangan diterima di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Anggota DPR dorong evaluasi keselamatan pascatabrakan kereta di Bekasi

Guna perbaikan ke depan, Rofik mengatakan perlu langkah-langkah solutif dan tegas dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) serta pemerintah untuk membenahi tata kelola keselamatan, baik dari segi penertiban pengendara maupun kedisiplinan petugas.

Mengingat kejadian ini diduga berawal dari insiden KRL tertemper taksi daring di rel kereta, ia menyebut penegakan aturan yang lebih tegas bagi pengendara yang melintasi perlintasan sebidang harus dilakukan.

Penindakan berupa tilang, peningkatan pengawasan, serta edukasi berkelanjutan dinilai perlu diperkuat. Selain itu, jika ditemukan kelalaian dari petugas penjaga maupun stasiun, prosedur operasional standar harus ditegakkan tanpa kompromi disertai evaluasi berkala.

Dia mengingatkan pada kecepatan operasional yang tinggi, jarak pengereman kereta bisa mencapai ratusan hingga ribuan meter sehingga kereta tidak bisa dihentikan secara mendadak layaknya kendaraan biasa.

Oleh karena itu, dia meminta kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi PT KAI, khususnya mengenai pembaruan sistem sinyal darurat, kecepatan komunikasi antarmasinis, dan protokol penghentian di jalur padat.

“Agar tragedi serupa tidak terulang,” tuturnya.

Baca juga: Anggota DPR minta KNKT usut tuntas kecelakaan kereta di Bekasi Timur

Rofik turut menyampaikan belasungkawa kepada para korban meninggal dunia dalam peristiwa itu serta mendoakan kesembuhan secepatnya bagi korban luka-luka.

Kecelakaan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL atau commuter line di Stasiun Bekasi Timur terjadi pada Senin (27/04) malam.

Kementerian Perhubungan mengungkapkan kronologi awal kecelakaan diduga bermula saat KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85 sehingga memicu insiden.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam keterangan di Jakarta, Selasa, (28/4), menjelaskan akibat insiden tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai perjalanan luar biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.

Sebagai dampaknya, petugas memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di Stasiun Bekasi Timur. Namun, Kereta Api Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya sehingga menabrak KRL yang sedang berhenti.

Baca juga: Seskab: Evakuasi korban tabrakan KA di Bekasi intensif dan cepat

Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.