Pasar saham di kawasan Asia diproyeksikan mengalami penguatan pada Selasa, 12 Mei 2026, menyusul optimisme investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) yang berhasil mengimbangi sentimen negatif akibat kegagalan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Penguatan ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak mentah dan melemahnya obligasi Treasury sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Kontrak berjangka untuk indeks saham di Australia, Jepang, dan Korea Selatan menunjukkan sinyal positif saat pembukaan pasar setelah Wall Street mendekati rekor tertinggi. Minyak mentah West Texas Intermediate bertahan di atas US$98 per barel setelah Presiden Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Republik Islam tersebut.
Kinerja laba perusahaan yang kuat telah mendorong revisi naik target akhir tahun untuk indeks S&P 500. Investor meyakini bahwa pertumbuhan laba korporasi, terutama yang didorong oleh investasi besar pada teknologi AI di Asia, mampu menopang reli pasar global meski terjadi guncangan pasokan energi dari Timur Tengah.
Kepala BlackRock Investment Institute, Jean Boivin, memberikan pandangan mengenai kondisi pasar yang sedang mendobrak rekor tertinggi di tengah konflik geopolitik.
"Pasar saat ini memperhitungkan pertumbuhan yang didorong AI sekaligus guncangan pasokan dari Timur Tengah," ujar Jean Boivin, kepala BlackRock Investment Institute.
Ia menambahkan bahwa ekspansi infrastruktur teknologi berperan sebagai penyeimbang bagi ekonomi global.
"Menurut dia, pembangunan pusat data AI membantu mengimbangi dampak negatif guncangan pasokan minyak terhadap pertumbuhan ekonomi," kata Jean Boivin, kepala BlackRock Investment Institute.
Ketegangan meningkat setelah Trump menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian sebagai sesuatu yang tidak berharga. Mantan presiden tersebut juga menyatakan keraguannya terhadap rencana pengawalan kapal di Selat Hormuz melalui wawancara dengan Fox News pada Senin.
"Kesepakatan masih sulit tercapai dan risiko tetap tinggi," ujar Mark Haefele dari UBS Chief Investment Office.
Ia menyoroti beban yang dipikul oleh kedua belah pihak dalam upaya diplomasi yang sedang berlangsung.
"Kedua pihak masih berada di bawah tekanan untuk menyelesaikan kesepakatan," kata Mark Haefele dari UBS Chief Investment Office.
Di sisi lain, yield Treasury tenor 10 tahun meningkat menjadi 4,41% karena pelaku pasar mulai meragukan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Goldman Sachs dan Bank of America bahkan telah menunda proyeksi penurunan suku bunga mereka berdasarkan data inflasi dan ketenagakerjaan yang masih solid.
Para analis terus memantau pergerakan harga komoditas yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas pasar dalam jangka panjang.
"Kekhawatiran terbesar adalah selama ini kita memiliki bantalan pada harga energi dan ada perdebatan mengenai kapan bantalan itu habis. Kapan kita benar-benar menyentuh dasar pasokan dan kapan ini benar-benar menjadi masalah," ujar Sarah Hunt, kepala strategi pasar di Alpine Saxon Woods.
Laporan indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Selasa pagi waktu setempat menjadi fokus utama investor untuk mengukur dampak nyata konflik tersebut terhadap inflasi global.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·