Celios soroti perlindungan UMKM di lokapasar imbas bea logistik naik

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Sudah sering saya sampaikan bahwa sebagian besar barang yang dijual di e-commerce itu adalah barang impor. Maka, barang lokal perlu perlindungan, salah satunya dari sisi biaya logistik

Jakarta (ANTARA) - Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mendorong adanya perlindungan khusus bagi produk lokal utamanya dari pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di platform lokapasar (marketplace) dan/atau e-commerce.

Hal ini menyusul para pelaku UMKM yang baru-baru ini mengeluhkan tingginya biaya administrasi hingga logistik yang dikenakan oleh platform perdagangan digital yang mereka gunakan.

“Dalam hal insentif, pemerintah, dalam hal ini Kementerian UMKM, harus memberikan treatment yang berbeda antara produk lokal dan produk impor,” kata Huda saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, saat ini produk UMKM lokal mengalami persaingan yang sulit dengan banyaknya produk impor yang diperjualbelikan di marketplace.

Selain itu, tingginya potongan oleh platform juga semakin menimbulkan tantangan baru untuk melanjutkan bisnis di platform perdagangan digital tersebut.

“Sudah sering saya sampaikan bahwa sebagian besar barang yang dijual di e-commerce itu adalah barang impor. Maka, barang lokal perlu perlindungan, salah satunya dari sisi biaya logistik,” ujar Huda.

Salah satu hal yang bisa dimulai oleh pemerintah untuk memberikan perlindungan produk UMKM di marketplace, lanjut Huda, adalah melakukan tagging barang sesuai dengan tempat produksinya (made in).

“Pemerintah juga harus melakukan tagging barang terlebih dahulu agar bisa melihat barang ini made in-nya made in mana. Kebijakan tagging ini juga tidak pernah dilakukan padahal ini penting untuk dijadikan data rujukan pembuatan kebijakan,” jelas dia.

Terkait faktor apa saja yang memengaruhi kenaikan biaya layanan marketplace, Huda menilai salah satunya adalah adanya perubahan strategi oleh platform saat ini yang lebih berorientasi untuk mencari keuntungan (profit-oriented).

“Aksi platform ini tidak lepas dari pergeseran strategi platform yang sekarang sudah mulai mengejar keuntungan. Dahulu platform mungkin masih bisa merugi karena yang dikejar valuasi. Namun demikian, sekarang sudah tidak bisa lagi karena harus untung,” kata dia.

“Pendanaan yang seret menjadi salah satu sebab pergeseran strategi dari platform. Pun sudah beberapa yang IPO dimana investor juga butuh kinerja perusahaan yang positif alih-alih negatif,” imbuhnya.

Naiknya biaya layanan platform pun, tambah Huda, berpotensi untuk memengaruhi keinginan konsumen berbelanja karena harga jual juga meningkat.

“Maka ketika ada kenaikan harga dari platform, baik biaya administrasi ataupun biaya logistik, maka akan terjadi penurunan permintaan,” kata Huda.

“Pun dibebankan ke seller, maka seller akan membebankan kembali ke konsumen, jadi tetap pada akhirnya permintaan akan melambat,” tambah dia.

Baca juga: Menteri UMKM akui terima banyak keluhan soal biaya admin e-commerce

Baca juga: Komisi XI DPR dukung penundaan pajak marketplace agar tak bebani UMKM

Baca juga: Sinergi dengan marketplace perluas peluang pasar IKM

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.