Diplomasi Rumit Trump dan Xi Jinping di Tengah Rivalitas Chip AI

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Di tengah rivalitas yang makin tajam antara Amerika Serikat (AS) dan China, lawatan Presiden Donald Trump ke Beijing pekan ini tampaknya tidak sepenuhnya bertujuan untuk memperbaiki hubungan kedua negara terkuat tersebut. Melainkan, bagaimana keduanya ingin memastikan persaingan tidak berubah jadi benturan terbuka yang mengguncang perekonomian global.

Hampir satu dekade sejak kunjungan presiden AS terakhir ke China, konstelasi dunia telah berubah drastis. Perang dagang, pembatasan teknologi, konflik geopolitik, hingga perebutan pengaruh global membuat hubungan Washington dan Beijing memasuki fase baru: saling bergantung, tapi juga curiga satu sama lain.

Seperti biasanya, Trump datang ke Beijing membawa agenda yang kelihatan sangat pragmatis. Dia membutuhkan kemenangan ekonomi yang bisa dijual ke publik domestik AS, seperti peningkatan ekspor pertanian AS, pembelian pesawat Boeing, atau stabilisasi perdagangan di tengah perlambatan ekonomi AS. Di balik pragmatisme itu, terselip juga kepentingan yang jauh lebih besar, yakni memastikan rantai pasok industri strategis AS tidak kembali lumpuh akibat dominasi China.

Tak heran kalau dalam lawatan kali ini Trump membawa serta 12 orang delegasi yang terdiri dari pemimpin perusahaan besar. Nama-nama seperti Jensen Huang dari Nvidia Corp, Elon Musk dari Tesla Inc, hingga Tim Cook dari Apple Inc turut serta dalam rombongan, menandakan betapa krusialnya sektor teknologi dan manufaktur dalam negosiasi kali ini.

Selama bertahun-tahun, dunia industri Barat menikmati komoditas mineral tanah jarang (rare earth) dengan biaya murah berkat efisiensi dari rantai pasok China tanpa memikirkan risikonya, kini ketergantungan itu berubah jadi kerentanan geopolitik. Kunjungan Trump ke China kali ini bertujuan untuk menghindari terulangnya guncangan pasokan mineral tanah jarang yang saat ini dikuasai oleh China.

Pada 2025 saja, China menguasai setidaknya 83% produksi tambang mineral tanah jarang dunia, 91% proses pemisahan mineral tanah jarang berjenis oxide, dan 94% produksi magnet mineral tanah jarang global pada 2024. Ketika China sempat menghentikan ekspor magnet rare earth pada April lalu sebagai respons terhadap kebijakan tarif, industri otomotif dan elektronik global langsung terguncang.

Washington menyadari bahwa perang dagang abad ke-21 adalah perebutan kendali atas sumber daya strategis. Meskipun AS mulai mengambil alih saham di perusahaan tambang dan menetapkan harga dasar domestik, dominasi China diprediksi masih akan bertahan cukup lama.

"Praktis, China diperkirakan tetap akan mendominasi rantai pasok rare earth, setidaknya hingga tahun 2030," ujar Chris Kennedy, Analis Bloomberg Intelligence.

Transformasi Hubungan Dagang yang Kompleks

Di sisi lain, Beijing datang ke meja perundingan dengan rasa percaya diri lebih besar. China merasa telah berhasil bertahan dari tekanan tarif AS melalui penguatan pasar domestik dan ketangguhan ekspor. Narasi mengenai pemisahan ekonomi atau 'decoupling' pun kini dinilai kurang tepat oleh para ahli ekonomi.

Hubungan kedua negara tidak benar-benar terputus, melainkan bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih rumit. Meskipun perdagangan langsung menurun, arus barang melalui negara ketiga justru mengalami peningkatan yang signifikan, membuat ketergantungan ekonomi menjadi lebih sulit untuk diukur secara transparan.

"Arus perdagangan tidak langsung melalui negara ketiga justru tetap bertahan, membuat ketergantungan itu menjadi lebih tidak transparan, bukan melemah," ujar Chang Shu dan Eric Zhu, Ekonom Bloomberg.

Laga Kekuatan di Bidang Kecerdasan Buatan

Fokus utama lainnya adalah industri kecerdasan buatan (AI). Kehadiran Jensen Huang dalam delegasi Trump memicu spekulasi mengenai masa depan ekspor chip AI canggih ke China. Selama ini, Washington sangat membatasi pengiriman teknologi tinggi ini karena kekhawatiran penggunaannya di sektor militer China.

Namun, situasi kini menjadi berbalik arah. Setelah AS mulai melonggarkan lisensi ekspor untuk chip tertentu, pemerintah China justru menunjukkan sikap resistansi dengan mempercepat swasembada semikonduktor dalam negeri dan menolak beberapa impor versi tertentu tahun lalu.

"Karena itu, pertemuan ini lebih mungkin menghasilkan kesepakatan yang lebih sempit— misalnya peningkatan dialog terkait AI—sementara persaingan dalam perangkat lunak, ekosistem teknologi, dan adopsi global akan terus meningkat," ujar Michael Deng, Analis Teknologi dan Geoekonomi Bloomberg.

Menjajakan Komoditas Utama AS

Selain urusan teknologi mutakhir, Trump tetap berperan sebagai 'sales' utama bagi produk-produk Amerika. Dia berupaya mendorong Beijing untuk meningkatkan pembelian produk 'Tiga B': soybeans (kedelai), beef (daging), dan Boeing (pesawat). Tiga komoditas ini merupakan tulang punggung ekspor AS ke China yang mencakup sekitar 12% dari total nilai perdagangan.

Namun, Xi Jinping memiliki posisi tawar yang kokoh berkat dominasi atas mineral tanah jarang. Hubungan ini membentuk sebuah interdependensi strategis, di mana kedua pihak saling membutuhkan namun secara simultan berusaha melepaskan diri dari ketergantungan satu sama lain.

Sensitivitas Isu Taiwan

Isu Taiwan tetap menjadi duri dalam daging dalam setiap pertemuan tingkat tinggi. Bagi Beijing, ini adalah masalah kedaulatan mutlak, sementara bagi Washington, Taiwan adalah pilar keamanan Asia dan pusat rantai pasok semikonduktor dunia. Isu penjualan senjata dan posisi AS terhadap kemerdekaan Taiwan diprediksi akan dibahas, meskipun Trump kemungkinan besar tidak akan mengubah kebijakan formal yang sudah ada.

Pertemuan ini dipandang oleh banyak pihak sebagai upaya mencari stabilitas sementara di tengah gejolak ekonomi internal masing-masing negara. Meskipun ada dialog, rivalitas struktural di berbagai bidang dipastikan tetap membara di bawah permukaan.

Dunia tidak sedang bergerak menuju perdamaian ekonomi baru yang absolut antara AS dan China. Sebaliknya, panggung global kini memasuki fase persaingan jangka panjang yang mungkin lebih terkendali, namun tetap penuh dengan kompleksitas yang sulit diprediksi.