Dugaan Manipulasi Pajak Ekspor CPO Seret Jatuh Saham Emiten Sawit di BEI

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Kabar mengenai dugaan manipulasi harga ekspor dan indikasi praktik transfer pricing oleh sejumlah kelompok usaha kelapa sawit besar di Indonesia menekan pergerakan saham emiten minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Seperti dikutip dari Bloomberg Technoz, pergerakan saham emiten CPO terpantau mengalami koreksi yang cukup dalam pada perdagangan Senin (25/5/2026) pagi.

Saham PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), sebagai contoh, mengalami penurunan sebesar 8,57 persen ke level Rp800 per saham.

Pelemahan ini juga berdampak pada saham-saham sektor konsumen primer yang mengampu saham CPO dengan penurunan sebesar 0,68 persen, sementara saham sektor energi merosot hingga 1,85 persen.

Tren bearish pada harga saham perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit ini terjadi menyusul laporan pemerintah terkait temuan praktik transfer pricing.

Dugaan penentuan harga transfer tersebut melibatkan 10 eksportir utama CPO beserta produk derivatifnya yang memicu selisih harga mencapai US$84 juta atau sekitar Rp1,48 triliun dengan asumsi kurs rupiah saat ini.

Informasi tersebut tertuang dalam dokumen laporan analisis transaksi CPO dan produk turunannya yang disusun oleh Kementerian Keuangan.

Laporan dari otoritas fiskal tersebut menjadi sentimen negatif yang memberatkan laju saham sektor sawit jelang siang hari ini.

Berikut adalah pergerakan harga saham beberapa emiten CPO di bursa:

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) anjlok 8,57 persen di posisi Rp800.

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) jatuh 4,32 persen di posisi Rp1.550.

PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) amblas 4,29 persen di posisi Rp1.225.

PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) ambruk 2,44 persen di posisi Rp1.000.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) melemah 2,27 persen di posisi Rp6.450.

PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) turun 1,92 persen di posisi Rp153.

PT Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) berkurang 1,91 persen di posisi Rp1.290.

PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) terpangkas 1,71 persen di posisi 2.310.

PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) terpeleset 1,53 persen di posisi Rp640.

PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) terpotong 0,89 persen di posisi Rp555.

PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) terkoreksi 0,84 persen di posisi Rp468.

Di sisi lain, saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) justru terpantau bergerak melawan arah dengan menguat 1,96 persen ke posisi Rp5.200 per saham.

Dampak Praktik Penghindaran Pajak

Otoritas fiskal menyatakan bahwa dugaan praktik transfer pricing oleh 10 eksportir kelapa sawit ini menyebabkan realisasi setoran Pajak Penghasilan (PPh) Badan mereka hanya mencapai 0,4 persen dari total omzet.

Nilai kontribusi tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tarif PPh Final untuk pelaku UMKM yang berada di angka 0,5 persen dari omzet.

Kondisi ini memicu potensi kehilangan pendapatan negara dari sektor perpajakan, mengingat Indonesia memegang status sebagai negara eksportir CPO terbesar di dunia dengan rata-rata pengapalan mencapai 23 hingga 25 juta ton per tahun.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah mendatangi Istana Negara pada pekan lalu dengan membawa dokumen hasil studi terkait praktik under invoicing serta daftar korporasi CPO yang diduga memanipulasi harga.

“Jadi saya cuma ada (dokumen) studi itu apa yang saya sebut kemarin. Perusahaan CPO mana saja yang melakukan manipulasi harga. Kalau ditanya, maka saya akan jawab,” kata Purbaya.

“Saya cuma tes 10 perusahaan besar, tiga pengapalan masing-masing perusahaan, saya random pilih, dan hasilnya ternyata cukup signifikan.” katanya.

Purbaya mengungkapkan bahwa dari total sepuluh perusahaan yang diperiksa, beberapa di antaranya terindikasi kuat menjalankan praktik under invoicing untuk aktivitas ekspor ke Amerika Serikat (AS).