DUNIA sedang memasuki fase yang tidak nyaman: ekonomi masih bergerak, tetapi rasa aman makin menipis.
Harga energi mudah bergejolak, perang dagang kembali membayangi, konflik geopolitik meluas, pasar keuangan makin reaktif, dan arus modal global bergerak cepat mengikuti sentimen.
Ketika Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyebut “uncertainty is the new normal”, pesan utamanya jelas: ketidakpastian bukan lagi gangguan sementara, melainkan lanskap baru ekonomi global.
Data memperkuat sinyal itu. IMF dalam World Economic Outlook April 2026 memproyeksikan pertumbuhan global hanya 3,1 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027, di bawah capaian terakhir dan jauh di bawah rata-rata pra-pandemi.
IMF menyebut perang di Timur Tengah, kenaikan harga komoditas, ekspektasi inflasi yang menguat, dan kondisi keuangan yang lebih ketat sebagai faktor yang menguji ketahanan ekonomi dunia.
Bank Dunia juga memberi nada serupa. Dalam Global Economic Prospects Januari 2026, pertumbuhan global diperkirakan hanya 2,7 persen pada 2025–2026.
Ini menandai dunia yang mulai “terkunci” dalam pertumbuhan rendah, dengan risiko dari ketidakpastian kebijakan, perubahan arah perdagangan, ketegangan geopolitik, inflasi persisten, dan bencana iklim.
Ketidakpastian yang Terukur
Yang membuat situasi hari ini berbeda adalah ketidakpastian tidak lagi hanya terasa, tetapi dapat diukur.
Di sinilah World Uncertainty Index atau WUI menjadi penting. WUI yang dikembangkan Hites Ahir, Nicholas Bloom, dan Davide Furceri mengukur frekuensi kata “uncertainty” dalam laporan negara Economist Intelligence Unit untuk 143 negara sejak 1952.
Secara historis, indeks ini melonjak saat Perang Teluk, krisis utang Eropa, Brexit, dan pandemi Covid-19.
Untuk Indonesia, data WUI yang dimuat FRED menunjukkan indeks ketidakpastian berada pada 0,92721 pada kuartal I-2026, setelah 0,90389 pada kuartal IV-2025, 1,20895 pada kuartal III-2025, dan 1,10044 pada kuartal II-2025.
Ini menunjukkan ketidakpastian masih bertahan pada level tinggi, meski tidak selalu bergerak linear dari kuartal ke kuartal.
Maknanya penting. Ketika WUI tinggi, pelaku ekonomi cenderung menunda investasi, menahan ekspansi, memperbesar kas, dan menghindari risiko jangka panjang.
Nicholas Bloom dalam publikasi IMF menjelaskan bahwa lonjakan ketidakpastian biasanya menekan pertumbuhan melalui penurunan investasi, perekrutan tenaga kerja, dan konsumsi barang tahan lama, dengan dampak yang sering terasa dalam rentang 6–18 bulan.
Dengan kata lain, ketidakpastian bukan sekadar suasana batin pasar. Ia menjelma menjadi biaya ekonomi.
Tekanan ke Indonesia
Indonesia tidak berada di ruang hampa. Tekanan global ikut terbaca pada pasar keuangan domestik.
Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, kenaikan pertama dalam dua tahun, untuk menstabilkan rupiah dan mengantisipasi risiko inflasi.
Reuters mencatat rupiah telah melemah sekitar 6 persen sepanjang 2026 dan sempat menyentuh rekor sekitar Rp 17.745 per dolar AS.
Inflasi April 2026 masih relatif terkendali di 2,42 persen, tetapi tekanan kurs dan harga energi global membuat ruang kebijakan menjadi semakin sempit.
Cadangan devisa juga menjadi indikator penting. Posisi cadangan devisa Indonesia pada April 2026 tercatat 146,2 miliar dollar AS, turun dari 148,15 miliar dollar AS pada Maret 2026.
Angka ini masih memadai, tetapi penurunannya memberi pesan bahwa stabilisasi nilai tukar memiliki biaya.
Di sinilah tantangan kebijakan menjadi rumit. Indonesia harus menjaga stabilitas rupiah, mempertahankan daya beli, mengelola ekspektasi inflasi, menjaga kredibilitas fiskal, sekaligus memastikan pertumbuhan tidak kehilangan tenaga.
Dalam situasi normal, kebijakan ekonomi dapat bergerak lebih leluasa. Dalam situasi ketidakpastian tinggi, setiap keputusan memiliki biaya peluang yang lebih mahal.
Karena itu, ketahanan ekonomi tidak boleh lagi dipahami sebagai agenda defensif. Ketahanan justru harus menjadi mesin pertumbuhan baru.
Pertama, APBN harus tetap menjadi shock absorber, tetapi dengan disiplin kredibilitas fiskal. Belanja negara perlu diarahkan lebih tajam pada produktivitas, pangan, energi, infrastruktur dasar, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan kelompok rentan. Subsidi dan bantuan sosial tetap penting, tetapi harus makin tepat sasaran.
Kedua, stabilitas moneter perlu dijaga tanpa mematikan pertumbuhan. Kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk menjaga rupiah, tetapi harus diimbangi kecukupan likuiditas perbankan, pembiayaan produktif, dan koordinasi fiskal-moneter yang kredibel.
Ketiga, pendalaman pasar keuangan domestik menjadi mendesak. Ketergantungan berlebihan pada modal asing membuat ekonomi rentan terhadap sentimen global.
Basis investor domestik, instrumen pembiayaan jangka panjang, pasar obligasi, dana pensiun, asuransi, dan pembiayaan produktif harus diperkuat.
Keempat, hilirisasi perlu naik kelas dari sekadar ekspor komoditas olahan menjadi industrialisasi berbasis nilai tambah, teknologi, tenaga kerja terampil, dan rantai pasok domestik. Tanpa itu, hilirisasi berisiko hanya menjadi perpanjangan ekonomi ekstraktif.
Kelima, kepastian kebijakan menjadi aset ekonomi. Dalam dunia dengan WUI tinggi, investor tidak hanya mencari negara dengan pasar besar, tetapi negara dengan regulasi konsisten, institusi kredibel, tata kelola baik, dan arah kebijakan yang dapat dibaca.
Pada akhirnya, dunia memang makin tidak pasti. Namun, ketidakpastian tidak harus dibaca sebagai alasan untuk pesimistis.
Justru di tengah dunia yang rapuh, negara yang mampu menjaga stabilitas, memperkuat institusi, dan menciptakan sumber pertumbuhan baru akan memiliki keunggulan.
Ketahanan bukan rem pertumbuhan. Ketahanan adalah fondasi agar pertumbuhan tidak mudah patah.
35 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·