Kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara atau uap (PLTU) di tingkat global mengalami peningkatan pada tahun lalu. Tren ini tetap terjadi meskipun penggunaan bahan bakar fosil kotor tersebut mengalami penurunan akibat negara-negara dunia yang mulai beralih ke energi terbarukan demi mencukupi lonjakan permintaan listrik.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, dunia mencatat pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara yang tumbuh sebesar 3,5 persen. Namun, tingkat pemanfaatannya justru menyusut sebanyak 0,6 persen setiap tahun berdasarkan data dari laporan Global Energy Monitor (GEM) yang dirilis pada Kamis (21/5/2026).
Fenomena perbedaan ini terlihat sangat mencolok di kawasan China dan India. Di kedua negara tersebut, pemasangan instalasi tenaga angin dan surya yang menembus rekor baru mampu menyuplai hampir seluruh kebutuhan listrik yang baru, sekaligus menggeser peran batu bara.
Pelebaran jarak antara kapasitas terpasang dengan tingkat penggunaan riil ini menegaskan fungsi batu bara sebagai penopang cadangan. Laporan GEM menyebutkan bahwa fasilitas ini dihargai karena ketersediaannya saat situasi darurat.
Tingkat keandalan batu bara semakin mendapat perhatian menyusul terjadinya perang Iran dan pemblokiran efektif di Selat Hormuz. Konflik tersebut memicu hambatan besar pada pasokan minyak serta gas bumi, hingga memaksa sejumlah negara kembali mengoperasikan batu bara demi mengamankan aliran listrik.
China selaku konsumen batu bara terbesar di dunia mencatatkan lonjakan komitmen baru dan pengaktifan kembali proyek lama hingga mencapai kapasitas rekor 162 gigawatt. Negara tersebut juga mengantongi pipeline pengembangan lebih dari 500 gigawatt, walaupun pemerintah setempat sebelumnya telah berjanji untuk memangkas pemakaian batu bara.
Penundaan Pensiun PLTU Global
Berdasarkan laporan yang sama, hampir 70 persen unit pembangkit yang semula masuk daftar nonaktif pada tahun 2025 ternyata batal ditutup. Langkah penundaan pensiun PLTU ini sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran negara-negara terhadap isu keamanan energi.
Meski demikian, pergerakan global untuk mereduksi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan berpindah ke energi bersih tetap berjalan. Lembaga think tank energi Ember mencatat bahwa pangsa energi bersih telah berhasil melampaui porsi batu bara dalam total pasokan listrik dunia pada tahun lalu.
Walaupun para pengguna utama seperti China, India, dan Indonesia mengalami lonjakan kapasitas PLTU masing-masing sebesar 6 persen, 4 persen, dan 7 persen pada tahun 2025, proyek pembangunan baru di seluruh dunia justru menyentuh rekor terendah. Jumlah negara yang mengajukan atau membangun PLTU baru kini lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.
"Tantangan utama menjelang tahun 2026 bukanlah ketersediaan alternatif, melainkan berlanjutnya kebijakan yang memperlakukan batu bara sebagai sesuatu yang diperlukan meski sistem tenaga listrik semakin bergerak menjauh darinya," kata Christine Shearer, manajer proyek pelacak pembangkit listrik tenaga batu bara global GEM.
37 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·