Federal Reserve Berpotensi Naikkan Suku Bunga Acuan akibat Inflasi Persisten

Sedang Trending 42 menit yang lalu

Pejabat Federal Reserve mengisyaratkan kesiapan untuk menaikkan kembali suku bunga acuan jika tingkat inflasi Amerika Serikat terus bertahan di atas target dua persen, berdasarkan risalah rapat yang dirilis pada Rabu (20/5).

Risalah pertemuan komite kebijakan moneter tersebut mendesak penghapusan bias pelonggaran moneter demi mengantisipasi lonjakan harga yang persisten, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.

Langkah pengetatan ini diambil menyusul peningkatan risiko inflasi yang dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz serta lonjakan imbal hasil obligasi negara.

Pertemuan Federal Open Market Committee pada tanggal 28 hingga 29 April sebelumnya memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

"banyak" kata pejabat dalam rapat kebijakan bulan lalu mendesak The Fed untuk menghapus bias pelonggaran moneter dan mulai memberikan sinyal bahwa langkah mereka berikutnya bisa berupa peningkatan suku bunga.

Penyesuaian kebijakan ini menandai pergeseran besar dibandingkan awal tahun ketika otoritas moneter masih memproyeksikan penurunan suku bunga sebagai skenario utama.

"beberapa pengetatan kebijakan kemungkinan besar akan menjadi langkah yang tepat jika inflasi terus berjalan persisten di atas 2%." tegas peserta rapat dalam dokumen notulensi FOMC.

Tiga pejabat menyatakan perbedaan pendapat dalam rapat April tersebut karena menolak klausul pernyataan yang masih mengindikasikan peluang pemangkasan suku bunga ke depan.

“banyak peserta mengindikasikan bahwa mereka lebih memilih menghapus bahasa dalam pernyataan setelah rapat yang menunjukkan adanya bias pelonggaran terkait arah kemungkinan keputusan suku bunga komite ke depan,” tulis risalah tersebut.

Data ketenagakerjaan yang solid dan laju inflasi yang melampaui estimasi pasar memperkuat keputusan para bankir sentral untuk memprioritaskan mitigasi risiko tekanan harga.

“Sebagian besar peserta mencatat adanya peningkatan risiko bahwa inflasi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke target 2 persen dibanding yang sebelumnya mereka perkirakan,” papar risalah tersebut.

Kondisi pasar tenaga kerja saat ini dinilai stabil namun berada dalam posisi yang rapuh di tengah fluktuasi pasar keuangan global.

“pertanyaan yang jauh lebih sulit” ujar Jerome Powell, Gubernur The Fed saat konferensi pers setelah rapat April mengenai keputusan mempertahankan bias pelonggaran.

Dia menambahkan bahwa penyesuaian arah kebijakan moneter sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.

“mungkin saja terjadi secepat rapat berikutnya.” kata Jerome Powell terkait potensi perubahan sikap komite.

Proyeksi ekonomi terbaru dari bank sentral Amerika Serikat dijadwalkan rilis setelah pertemuan berkala pada tanggal 16 hingga 17 Juni mendatang.

"beberapa peserta rapat memberikan komentar mengenai kemungkinan komite untuk mempertimbangkan perpanjangan jangka waktu fasilitas swap lines (pertukaran valas) di atas satu tahun, mencatat bahwa perpanjangan yang lebih lama akan bermanfaat bagi stabilitas keuangan." ungkap risalah tersebut dalam pembahasan stabilitas ekonomi.

Agenda terdekat pemerintah adalah pelantikan Kevin Warsh sebagai Gubernur Federal Reserve yang baru oleh Presiden Donald Trump pada hari Jumat di Gedung Putih.