Fenomena Antrean Panjang Produk Viral Bukan Indikator Ekonomi Baik&Baik Saja

Sedang Trending 1 jam yang lalu

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena antrean panjang anak-anak dan remaja demi membeli parfum lokal hingga jam tangan viral di pusat perbelanjaan dinilai bukan menjadi indikator kondisi ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja.

Di balik tren konsumsi tersebut, ekonom justru melihat adanya gejala tekanan ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat.

Lipstick effect sebagai cermin tekanan ekonomi

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, fenomena masyarakat rela mengantre demi membeli barang-barang konsumtif bernilai relatif kecil merupakan bagian dari fenomena yang dikenal sebagai lipstick effect.

AP x Swatch Royal Pop Collection varian OTG Roz (kiri), Blaue Acht (tengah), dan Lan Ba (kanan).

“Fenomena itu disebut sebagai lipstick effect karena makin besar tekanan ekonomi, makin mendekati krisis, semakin banyak pengeluaran masyarakat untuk barang-barang yang sebenarnya sifatnya kemewahan kecil seperti beli lipstick, beli parfum,” ujar Bhima kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).

Sebagai informasi, fenomena lipstick effect merupakan kondisi psikologis dalam perilaku konsumsi masyarakat ketika tekanan ekonomi meningkat, namun keinginan untuk mencari hiburan atau kepuasan pribadi tetap tinggi.

Dalam situasi tersebut, masyarakat cenderung tetap membelanjakan uangnya untuk barang-barang kecil yang dianggap mampu meningkatkan suasana hati, meski bukan kebutuhan utama.

Alih-alih membeli barang mewah dengan harga mahal, konsumen biasanya beralih pada produk tersier yang relatif lebih terjangkau seperti lipstik, parfum, kopi premium, produk perawatan diri, hingga hiburan ringan.

Barang-barang tersebut dipandang sebagai bentuk “hadiah kecil” untuk diri sendiri di tengah tekanan pekerjaan, penurunan pendapatan, atau ketidakpastian ekonomi.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara dalam diskusi Polemik Harga Beras dan Kebijakan Pangan di Tengah Krisis Iklim, Selasa (16/9/2025).

Fenomena ini kerap muncul saat kondisi ekonomi melambat atau mendekati krisis, ketika masyarakat tetap ingin mempertahankan gaya hidup dan mencari pelarian emosional tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Bhima mengatakan, kondisi tersebut biasanya muncul ketika masyarakat mengalami tekanan ekonomi maupun psikologis akibat pekerjaan, penurunan pendapatan, hingga sulitnya mencari lapangan kerja.

“Untuk menghibur diri dari tekanan pekerjaan yang semakin meningkat, banyak orang susah cari kerja, pendapatannya turun,” katanya.

Bukan tanda daya beli masyarakat kuat

Bhima menilai, tingginya antusiasme masyarakat terhadap produk-produk viral, konser musik, hingga barang gaya hidup tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda daya beli masyarakat sedang kuat.

“Makanya konser musik juga laris, tapi itu bukan menandakan ekonomi sedang baik-baik aja, justru sebaliknya,” ucapnya.

Dia bahkan mengingatkan fenomena tersebut bisa menjadi sinyal adanya tekanan ekonomi yang lebih besar dalam waktu mendatang apabila masyarakat tidak mulai lebih bijak mengelola pengeluaran.

“Justru menandakan bahwa akan ada badai ekonomi yang segera datang,” kata Bhima.

Menurut Bhima, masyarakat sebaiknya mulai memperkuat dana darurat dan memprioritaskan kebutuhan pokok dibanding pengeluaran tersier yang sifatnya hiburan sesaat.

“Dan masyarakat harus diberi peringatan bahwa lipstick effect ini bukan pertanda ekonomi sedang baik-baik saja, tapi sebaliknya,” ujarnya.

“Ekonomi akan semakin tertekan, jadi daripada beli barang-barang yang sifatnya tersier seperti lipstick dan parfum, ya harusnya masyarakat bersiap dengan dana darurat dan kebutuhan pokok,” lanjut Bhima.

Melansir Instagram @localpridegarage, fenomena antrean panjang terjadi di kawasan Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta setelah parfum lokal merek Mykonos viral di media sosial.

Sejumlah unggahan memperlihatkan anak-anak hingga remaja rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan produk parfum yang tengah populer tersebut.

Tren itu diduga dipengaruhi konten kreator dan streamer media sosial yang ramai mengulas produk tersebut, sehingga memicu fenomena fear of missing out (FOMO) alias takut ketinggalan tren di kalangan anak muda dan remaja.

Sementara itu, peluncuran koleksi jam tangan saku terbaru hasil kolaborasi Audemars Piguet dan Swatch memicu kehebohan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia pada Sabtu (16/5/2026).

Banyak penggemar horologi rela mengantre sejak pagi buta di depan gerai Swatch yang berlokasi di mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, dan Pacific Place, Jakarta Selatan, demi mendapatkan seri bertajuk Royal Pop Collection.

Dalam berbagai video di media sosial, terekam jelas tingginya antusiasme para pembeli. Antrean pengunjung mengular, bahkan sejak sebelum mal dibuka.

Saking ramainya, petugas keamanan setempat pun dilaporkan sempat harus turun tangan menertibkan barisan massa yang terus bertambah.

Pihak Swatch pun mengeluarkan pernyataan tertulis perihal situasi tersebut.

"Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan staf kami di toko Swatch, kami mohon Anda tidak terburu-buru datang ke toko kami dalam jumlah besar untuk mendapatkan produk ini," tulis mereka dalam unggahan akun Instagramnya, Minggu (17/5/2026) dini hari.

"The Royal Pop Collection akan tetap tersedia selama beberapa bulan. Di beberapa negara, antrean lebih dari 50 orang tidak dapat diterima, dan penjualan mungkin perlu dihentikan," lanjut mereka.