PT Darma Henwa Tbk Kaji Pendanaan Proyek Tambang Emas Gayo

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PT Darma Henwa Tbk tengah mempertimbangkan berbagai alternatif pendanaan meliputi pinjaman perbankan, penawaran umum perdana saham atau IPO, hingga penerbitan obligasi pada Minggu, 17 Mei 2026. Langkah strategis dari emiten berkode saham DEWA tersebut ditujukan untuk membiayai pengembangan proyek tambang emas milik anak usahanya, PT Gayo Mineral Resources.

Rencana pencarian modal ini dilansir dari Investor Daily berdasarkan hasil riset sekuritas. Nilai valuasi dan target harga saham perseroan ke depan turut dipengaruhi oleh perkembangan proyek mineral tersebut.

Laporan riset dari BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan pengerjaan eksplorasi tambang emas oleh perseroan kini sudah memasuki fase kedua. Pihak analis memproyeksikan penyelesaian fase ketiga dapat tercapai pada tahun 2027, sementara pengerjaan Engineering, Procurement, and Construction ditargetkan berjalan mulai tahun 2028.

"Fase 3 akan fokus ke eksplorasi bagian tenggara yang ada di lokasi APL. Dengan begini, proses perizinan bakal lebih mudah jika DEWA ingin masuk tahap produksi," tulis BRIDS.

Manajemen perseroan saat ini belum menetapkan serta mengumumkan jadwal pasti terkait jumlah total sumber daya maupun cadangan resmi yang tersimpan di area tersebut. Pihak sekuritas menduga manajemen masih mengumpulkan data menyeluruh dari hasil akhir eksplorasi fase ketiga sebelum memaparkan perincian proyek kepada publik.

Di samping proyek mineral, pihak analis melakukan penyesuaian terhadap volume pengupasan lapisan tanah penutup atau overburden removal milik perseroan. Target volume untuk tahun 2026 diubah menjadi 172 juta bcm dan tahun 2027 menjadi 222 juta bcm akibat hambatan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya batu bara.

Meski terdapat penundaan agenda pengerjaan, rekomendasi beli untuk saham DEWA tetap dipertahankan dengan target harga sebesar Rp610 per lembar menggunakan metode penilaian Sum of the Parts. Bisnis kontraktor batu bara emiten divaluasi dengan EV/EBITDA tahun 2027 sebesar 7,7 kali, sedangkan unit mineral dihargai satu kali nilai buku.

"Risiko saham ini adalah penundaan kontrak baru, tarif yang lebih rendah dari produksi, serta eksekusi pengembangan proyek mineral. Sebaliknya, katalis penguatan ada dari penambangan kontrak baru, terutama dari ekosistem Grup Bumi dan pengumuman cadangan Gayo Mineral," tulis broker itu.