INDEF Soroti Fenomena Antrean Barang Viral di Pusat Perbelanjaan Jakarta

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Fenomena masyarakat perkotaan yang rela mengantre panjang demi membeli produk jam tangan hingga parfum yang viral di pusat perbelanjaan Jakarta dinilai dipicu oleh dorongan status sosial serta pengaruh kuat media sosial. Perilaku konsumtif ini lebih banyak melanda kelompok masyarakat menengah ke atas di kota besar di tengah situasi tekanan ekonomi, seperti dilansir dari Money.

Simbol status sosial yang terbentuk melalui tren di media sosial menjadi faktor pengikat utama dalam kemunculan fenomena ini. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad memberikan pandangannya mengenai situasi tersebut pada Minggu (17/5/2026).

"Ini fenomena kelas menengah ke atas. Karena media sosial, akhirnya muncul simbol status sosial. Ada beberapa kalangan yang merasa memakai jam tangan mahal atau barang terbaru menunjukkan status sosialnya lebih tinggi dibandingkan yang lain," ujar Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Kepemilikan terhadap barang-barang tertentu pada saat ini telah bergeser makna. Komoditas tersebut tidak lagi sekadar dinilai dari segi kegunaan, melainkan sudah beralih menjadi representasi identitas sosial serta penanda keberhasilan hidup bagi seorang individu.

"Kalau sudah punya barang sosial seperti itu, berarti menggambarkan dia sudah masuk pada level kesuksesan atau keberhasilan dalam hidupnya," kata Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Selain masalah gengsi dan identitas, faktor psikologis berupa rasa takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO) turut memegang peran penting. Masyarakat menjadi sangat impulsif untuk ikut mengantre ketika ada sebuah produk yang sedang ramai dibicarakan.

"Ada fenomena kalau ada barang baru itu ya fenomena FOMO. Apalagi kalau barang itu lagi viral dan susah didapat, akhirnya sering dibicarakan," ujar Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Aspek kelangkaan dari produk yang dipasarkan kemudian memicu efek psikologis lanjutan bagi konsumen. Produk yang didapat dengan perjuangan mengantre panjang dianggap memiliki nilai emosional yang jauh lebih tinggi ketimbang barang yang mudah diperoleh.

"Kalau ikut antrean dan sebagainya, merasa barang itu lebih berharga dibandingkan yang lain. Ada efek psikologis dan emosional dalam konsumsi barang-barang tersebut," kata Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Kendati demikian, situasi berburu barang viral ini tidak dapat dijadikan cerminan kondisi ekonomi kelas menengah di Indonesia secara umum. Pola konsumsi seperti ini hanya bersifat lokal dan terbatas pada kelompok yang memiliki dana simpanan kuat.

"Menurut saya ini tidak menggambarkan fenomena kelas menengah secara umum. Hanya terjadi di kota-kota besar dan tempat-tempat tertentu saja," ucap Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Aksi mengantre ini sebelumnya sempat ramai di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @localpridegarage. Akun tersebut menyoroti kerumunan anak muda yang berdesakan demi membeli parfum lokal merek Mykonos di gerai Pondok Indah Mall, Jakarta setelah melihat ulasan para pembuat konten.

Kehebohan serupa juga terjadi saat peluncuran koleksi jam tangan saku Royal Pop Collection hasil kolaborasi Audemars Piguet dan Swatch pada Sabtu (16/5/2026). Penggemar horologi memadati gerai Swatch di Grand Indonesia dan Pacific Place sejak pagi buta hingga petugas keamanan harus turun tangan menertibkan antrean.

Merespons situasi yang dipadati massa tersebut, manajemen pabrikan jam tangan merilis maklumat resmi melalui akun Instagram mereka guna menjaga kondusivitas di area toko.

"Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan staf kami di toko Swatch, kami mohon Anda tidak terburu-buru datang ke toko kami dalam jumlah besar untuk mendapatkan produk ini," tulis Swatch.

Pihak produsen juga memastikan bahwa pasokan untuk koleksi kolaborasi ini akan tetap dijamin tersedia di pasar dalam beberapa bulan ke depan. Langkah pembatasan jumlah barisan konsumen pun siap diterapkan demi alasan keamanan di beberapa negara.

"The Royal Pop Collection akan tetap tersedia selama beberapa bulan. Di beberapa negara, antrean lebih dari 50 orang tidak dapat diterima, dan penjualan mungkin perlu dihentikan," lanjut Swatch.