Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menegaskan pihaknya tidak menaruh kepercayaan pada negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini muncul di tengah upaya mediasi Pakistan untuk pembicaraan putaran kedua sebelum masa gencatan senjata berakhir minggu ini.
Sikap keras Teheran tersebut disampaikan pada Selasa (21/4/2026) sebagai respons terhadap ancaman AS yang terus berlanjut terhadap kedaulatan Iran, dilansir dari Detikcom. Mousavi menegaskan bahwa sandaran utama negara tersebut bukan pada kesepakatan diplomatik dengan pihak Barat.
"Seperti yang dikatakan Pemimpin kami (Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei), kami tidak mempercayai negosiasi dengan Anda, tetapi kami percaya pada kekuatan Tuhan, rakyat, dan para pejuang," kata Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, Komandan Angkatan Udara IRGC.
Mousavi memberikan penegasan bahwa Iran kini telah meninggalkan masa-masa bersikap lemah di hadapan tekanan internasional. Ia memperingatkan bahwa setiap bentuk intimidasi terhadap keamanan nasional mereka akan memicu balasan yang setimpal.
"Di mana pun Anda berada, kami akan merespons dengan keras kapan pun kami mau," cetus Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, Komandan Angkatan Udara IRGC.
Konfrontasi fisik antara kedua belah pihak bermula sejak 28 Februari 2026, dipicu oleh serangan udara AS-Israel yang menewaskan sejumlah perwira senior Iran. Menanggapi hal itu, militer Iran meluncurkan setidaknya 100 gelombang serangan balasan ke berbagai titik strategis di wilayah tersebut.
Selain serangan udara, Iran juga memberlakukan blokade di Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang teridentifikasi berafiliasi dengan pihak musuh. Langkah ini diklaim sebagai upaya untuk menjaga stabilitas keamanan di jalur perairan vital tersebut.
Gencatan senjata berdurasi dua minggu sebenarnya telah dimulai sejak 8 April 2026 melalui penengah dari Pakistan. Namun, proses diplomasi antara Teheran dan Washington sejauh ini belum membuahkan hasil lantaran Iran menganggap Gedung Putih mengajukan sejumlah persyaratan yang dianggap berlebihan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·