Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terus menyosialisasikan Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga (Satu Jam-Ku) untuk mengurangi waktu bermain gawai atau screen time guna membangun kualitas keluarga.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum mengemukakan pada era semua serba terhubung secara digital, membatasi penggunaan gawai pada anak tentu menjadi tantangan tertentu. Oleh karena itu kondisi kesehatan mental anak perlu terus dijaga.
"Anak bisa saja mengalami tantrum, marah, atau kesal akibat pembatasan. Oleh karena itu penguatan peran keluarga sangat penting. Keluarga harus mampu mendampingi anak, terutama saat ada pembatasan. Maka, perlu dibuat kegiatan positif yang mempererat hubungan antaranggota keluarga. Bonding (ikatan) inilah yang harus dibangun," katanya di Jakarta pada Rabu.
Baca juga: Gerakan Satu Jam-Ku implementasikan PP Tunas atasi kecanduan gawai
Ia juga menegaskan kembali arahan Menko PMK Pratikno kepada pemerintah daerah agar mengurangi screen time dan memperbanyak green time dengan membangun kota atau lingkungan yang layak huni dan ramah bagi keluarga agar bisa beraktivitas di luar rumah.
"Jika penggunaan gawai dibatasi tetapi lingkungan tidak mendukung aktivitas, maka itu bukan solusi. Oleh karena itu dibutuhkan kerja sama lintas sektor, tidak hanya kementerian yang mengurusi pelindungan perempuan dan anak, tetapi juga pihak lain. Misalnya, pembangunan kota dengan ruang bermain yang memadai. Itu bukan hanya tanggung jawab satu kementerian, semua harus berkolaborasi," paparnya.
Woro menambahkan Gerakan Satu Jam-Ku mendorong semua pihak bergerak bersama untuk melindungi anak dari dampak negatif era digital.
Baca juga: Kemenko PMK: Optimalkan kualitas interaksi keluarga di momen mudik
Pemerintah dalam hal ini, kata dia, tentu tidak menolak kehadiran teknologi. Namun untuk membangun generasi berkualitas, maka seluruh pengasuh atau keluarga perlu mengajarkan penggunaan teknologi yang bijak dan cerdas, baik kepada anak maupun orang dewasa di sekitarnya.
Terkait implementasi Gerakan Satu Jam-Ku di daerah, lanjutnya, bentuk kegiatannya akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah, mengingat setiap daerah memiliki ciri khas dan programnya sendiri.
"Kita tidak memulai dari nol, tetapi mengoptimalkan yang sudah ada. Jika suatu daerah sudah memiliki program keluarga, maka program tersebut bisa diperkuat melalui gerakan ini. Begitu juga dengan program lain seperti gerakan masyarakat hidup sehat, yang dapat diintegrasikan dengan aktivitas keluarga," tutur Woro.
Baca juga: Anak usia dini 6 jam pakai gawai, Gerakan Satu Jam KU jadi solusi
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·