Harga buyback emas Antam mencatatkan kenaikan dua digit sepanjang periode berjalan tahun 2026 ini.
Berdasarkan data Logam Mulia pada Senin (25/5/2026), harga buyback emas Antam melonjak sebesar Rp35.000 hingga menyentuh angka Rp2.612.000. Nilai tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 10,67% untuk periode berjalan tahun 2026, seperti dikutip dari Market.
Meski mengalami peningkatan, posisi harga buyback emas Antam saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH). Rekor tertinggi tersebut berada di level Rp2.989.000 yang tercapai pada akhir Januari 2026.
Untuk diketahui, harga buyback emas Antam merupakan standar acuan bagi pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang dihitung berdasarkan ukuran 1 gram. Pergerakan nilai ini bergerak selaras dengan fluktuasi mahar logam mulia di pasar global.
Transaksi buyback emas sendiri merupakan aktivitas menjual kembali emas, baik yang berbentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Pada umumnya, harga yang ditetapkan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan harga jual yang berlaku pada momen yang sama.
Walakin, transaksi buyback emas ini tetap dapat menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. Syaratnya, terdapat selisih yang cukup besar antara harga pembelian awal dan harga buyback saat penjualan dilakukan.
Terkait regulasi perpajakan, terdapat aturan khusus yang mengikat transaksi ini. Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, aktivitas penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nilai nominal di atas Rp10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) 22.
Besaran tarif PPh 22 tersebut adalah sebesar 1,5 persen bagi para pemegang NPWP. Sementara itu, bagi non-pemegang NPWP, tarif pajak yang dibebankan adalah sebesar 3 persen. Pemotongan PPh 22 atas transaksi buyback ini akan dilakukan secara langsung dari total nilai keseluruhan buyback.
Di sisi lain, pergerakan komoditas ini juga dipengaruhi oleh situasi pasar internasional. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, memproyeksikan bahwa harga emas dunia masih berpotensi menghadapi tekanan di pasar sepanjang pekan depan.
Geraldo Kofit menjelaskan bahwa situasi tersebut berjalan seiring dengan sentimen bearish yang dinilai belum memperlihatkan tanda-tanda mereda. Faktor penekan ini datang dari sisi teknikal maupun fundamental pasar.
Menurut analisisnya, pergerakan emas di pasar spot pada timeframe H4 masih memperlihatkan indikasi tren penurunan yang tergolong kuat. Potensi pelemahan lanjutan dinilai masih terbuka selama harga komoditas ini belum berhasil menembus area resistance kunci.
"Struktur pergerakan harga emas saat ini membentuk pola lower high dan lower low, yang merupakan indikasi klasik dari tren bearish yang solid," jelasnya dalam riset yang dikutip Minggu (24/5/2026).
Geraldo Kofit menambahkan bahwa situasi ini mengindikasikan setiap momentum kenaikan harga cenderung tertahan dan berpotensi segera diikuti oleh tekanan jual kembali. Posisi harga yang bertahan di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan 50 turut memperkokoh tekanan bearish tersebut karena kedua indikator kini berperan sebagai dynamic resistance.
"Dalam proyeksi pekan ini, area resistance terdekat berada di level 4.589 dolar AS sebagai Resistance 1 dan 4.639 dolar AS sebagai Resistance 2. Selama harga tetap bergerak di bawah rentang tersebut, peluang untuk melanjutkan tren penurunan masih terbuka lebar," jelasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·