Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan hari ini. Dilansir dari Bloomberg Technoz, penurunan ini sejalan dengan melemahnya harga emas di pasar global.
Pada Sabtu (16/5/2026), harga emas Antam berada di level Rp 2.769.000 per gram. Nilai tersebut melemah sebesar Rp 50.000 dibandingkan dengan posisi perdagangan hari sebelumnya.
Koreksi juga terjadi pada harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam yang kini ditetapkan sebesar Rp 2.576.000 per gram. Angka ini terpangkas Rp 60.000 ketimbang hari kemarin.
| 0,5 gram | 1.434.500 |
| 1 gram | 2.769.000 |
| 2 gram | 5.478.000 |
| 3 gram | 8.192.000 |
| 5 gram | 13.620.000 |
| 10 gram | 27.185.000 |
| 25 gram | 67.837.000 |
| 50 gram | 135.595.000 |
| 100 gram | 271.112.000 |
| 250 gram | 677.515.000 |
| 500 gram | 1.354.820.000 |
| 1000 gram | 2.709.600.000 |
Pengaruh Tekanan Pasar Emas Global
Pergerakan nilai investasi logam mulia di dalam negeri ini tidak lepas dari dinamika pasar internasional. Di pasar spot global, harga emas ditutup merosot 2,22% ke level US$ 4.547,9 per troy ons pada hari kemarin.
Penurunan tajam tersebut membawa komoditas ini menyentuh level terendahnya sejak 4 Mei, atau dalam kurun waktu hampir dua pekan terakhir.
Gejolak geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menghambat pergerakan harga komoditas global. Sejak konflik bersenjata pecah pada akhir Februari lalu, harga aset aman ini tercatat sudah anjlok lebih dari 13%.
Pelaku pasar mengkhawatirkan stabilitas produksi serta kelancaran distribusi komoditas energi dunia. Terlebih, jalur pelayaran krusial di Selat Hormuz hingga kini masih tertutup dan belum dapat dilintasi kapal dagang.
Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak jenis brent yang melesat 3,33% ke posisi US$ 109,24 per barel kemarin. Sepanjang pekan ini saja, harga minyak brent telah melejit sebesar 7,85%.
Situasi tersebut meningkatkan kecemasan global terhadap potensi lonjakan inflasi yang tinggi. Hal ini diprediksi akan menyulitkan bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), memegang emas dinilai menjadi kurang menguntungkan bagi investor selama tingkat suku bunga belum mengalami penurunan.
“Ekspektasi inflasi, yield (imbal hasil) obligasi yang tinggi, dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) mungkin akan terus menekan harga emas,” tulis catatan ANZ Group Holdings Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Akibat tekanan ini, ANZ Group Holdings Ltd merevisi proyeksi mereka dan memundurkan target harga emas di level US$ 6.000 per troy ons ke pertengahan tahun 2027, dari yang sebelumnya diperkirakan bisa tercapai pada awal tahun depan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·