Harga Minyak Dunia Melemah Sepekan di Tengah Sinyal Damai AS dan Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Harga minyak dunia tercatat mengalami penurunan sepanjang pekan ini akibat adanya sinyal positif dari pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Dikutip dari Money, meskipun kedua negara menunjukkan perkembangan menuju kesepakatan, sejumlah persoalan utama dilaporkan masih belum terselesaikan.

Perbedaan pandangan terkait cadangan uranium Iran yang diperkaya serta pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi hambatan utama dalam negosiasi tersebut.

Pada perdagangan Jumat (22/5/2026), harga minyak mentah Brent untuk acuan internasional naik 96 sen menjadi 103,54 dollar AS per barrel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 25 sen ke level 96,60 dollar AS per barrel.

Meski ditutup menguat pada akhir perdagangan hari tersebut, harga minyak tetap membukukan pelemahan dalam hitungan sepekan.

Minyak Brent turun lebih dari 5 persen sepanjang pekan, sedangkan minyak mentah AS terkoreksi lebih dari 8 persen.

Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Presiden AS, Donald Trump pada awal pekan menyatakan menunda rencana serangan terhadap Iran untuk memberi ruang bagi proses diplomasi.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (23/5/2026), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio sebelumnya menyebut terdapat "sinyal positif" menuju kesepakatan damai.

Namun, Washington menegaskan kesepakatan sulit tercapai apabila Iran tetap berupaya mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz secara permanen.

Analis ING menilai pelaku pasar masih berupaya membaca arah negosiasi antara Washington dan Teheran.

Meski optimisme mulai muncul, ketidakpastian masih mendominasi karena pembicaraan damai sebelumnya juga sempat menunjukkan kemajuan sebelum akhirnya kembali menemui jalan buntu.

Kondisi tersebut membuat sebagian investor memilih bersikap hati-hati terhadap perkembangan terbaru.

Risiko Pasokan Energi Global Belum Hilang

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap pasokan energi global masih membayangi pasar minyak dunia.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan pasar minyak berpotensi memasuki fase tekanan tinggi menjelang musim panas di belahan bumi utara.

Peningkatan permintaan perjalanan pada musim liburan diperkirakan dapat mempercepat penurunan stok energi global.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan solusi paling penting untuk meredakan guncangan energi akibat perang Iran adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat.

Menurut dia, negara-negara berkembang di Asia dan Afrika berpotensi merasakan dampak paling besar apabila gangguan pasokan energi terus berlangsung.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global dan gas alam cair dunia biasanya melewati jalur tersebut.

Namun, aktivitas pengiriman energi di kawasan itu nyaris terhenti sejak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat pada 28 Februari 2026.

Lembaga keuangan MUFG dalam riset terbarunya juga memperingatkan normalisasi pasokan minyak Timur Tengah kemungkinan baru dapat berlangsung penuh pada 2027 mengingat besarnya gangguan akibat konflik yang masih berlangsung.