Harga Minyak Urals Rusia Melonjak Akibat Gangguan Pasokan di Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kenaikan harga minyak ekspor utama Rusia, Urals, mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023 pada Jumat (15/5/2026) setelah konflik di Iran mengganggu distribusi pasokan global melalui Selat Hormuz. Lonjakan harga ini memberikan stimulus finansial signifikan bagi anggaran militer Kremlin di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, Kementerian Keuangan Rusia menetapkan perhitungan pajak bagi produsen minyak pada bulan Mei berdasarkan harga rata-rata Urals sebesar US$94,87 per barel. Angka ini dikonversi menggunakan nilai tukar 76,938 rubel per dolar AS untuk menetapkan beban kewajiban fiskal perusahaan energi nasional.

Nilai tersebut setara dengan hampir 7.300 rubel per barel, yang merepresentasikan peningkatan sebesar 18% dibandingkan bulan sebelumnya. Jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, angka pendapatan ini mengalami lonjakan drastis hingga 60% akibat pergeseran dinamika pasar minyak global.

Sektor industri minyak dan gas menyumbang sekitar seperlima dari total pendapatan anggaran negara Rusia. Pemerintah setempat mengandalkan penguatan harga dan peningkatan permintaan internasional terhadap minyak mentah mereka guna menopang stabilitas ekonomi dalam masa perang.

Aliran dana hasil ekspor energi tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat cadangan dana darurat nasional. Kondisi ini juga memungkinkan otoritas terkait untuk menunda rencana pengurangan belanja pada sektor-sektor non-prioritas yang sebelumnya telah direncanakan.

Meskipun harga minyak global melonjak, keuntungan maksimal Rusia sedikit tertahan oleh penguatan nilai tukar mata uang lokal. Rubel yang menguat menyebabkan penerimaan pajak dalam bentuk dolar menjadi lebih kecil ketika dikonversi kembali ke dalam mata uang domestik.

Penguatan nilai rubel dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi serta adanya pembatasan impor yang ketat. Selain itu, para eksportir meningkatkan penjualan mata uang asing mereka seiring dengan reli harga komoditas di pasar internasional yang terus berlanjut.

Pada bulan ini, rubel mencatatkan posisi terkuatnya terhadap dolar AS sejak Februari 2023. Fenomena mata uang yang perkasa ini diprediksi dapat menggerus potensi keuntungan luar biasa (windfall) dari sektor minyak bagi Kremlin setelah berakhirnya periode Mei.

Total pendapatan bersih dari sektor energi di bulan Mei juga sangat bergantung pada besaran subsidi yang dikeluarkan negara. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung operasional industri penyulingan minyak domestik serta menjamin ketersediaan pasokan bahan bakar di dalam negeri.

Pembayaran subsidi pemerintah kepada perusahaan energi pada April tercatat mencapai 359 miliar rubel atau setara US$4,8 miliar. Jumlah pembayaran tersebut menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu lebih dari dua tahun terakhir akibat lonjakan harga bahan bakar di pasar dunia.