IHSG 21 Mei 2026 Anjlok 3,54 Persen Tembus Batas Psikologis

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan drastis pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026). Indeks saham domestik terkoreksi sebesar 3,54 persen atau melemah 224 poin, sehingga parkir di level 6.094,941.

Pelemahan signifikan ini membuat IHSG merosot hingga menembus batas psikologis 6.100. Seperti dikutip dari Money, dominasi tekanan jual di pasar modal dipicu oleh aksi jual bersih atau net sell investor asing yang menembus Rp 508 miliar.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi sasaran aksi jual asing terbesar dengan nilai net sell mencapai Rp 204 miliar.

Tekanan jual meluas ke sektor perbankan besar, menimpa saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell Rp 146 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 142 miliar.

Investor asing juga melepas saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 135 miliar, diikuti saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan penjualan bersih sebesar Rp 120 miliar.

Sebaliknya, aliran dana asing terpantau masuk ke sejumlah saham sektor energi dan komoditas. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan net buy terbesar dari investor asing dengan nilai Rp 204Submiliar.

Aksi beli asing berlanjut pada saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) senilai Rp 173 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp 88 miliar, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sejumlah Rp 63 miliar.

Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melengkapi daftar buruan investor asing dengan catatan net buy senilai Rp 60 miliar.

Selama sesi perdagangan Kamis, pergerakan IHSG terus tertekan setelah sempat menyentuh level tertinggi di posisi 6.378,811, sebelum akhirnya merosot ke tingkat terendah pada level 6.080,954.

Kondisi pasar yang memburuk terjadi secara merata di seluruh sektor. Tercatat sebanyak 663 saham melemah, hanya 88 saham yang menguat, dan 69 saham lainnya tidak bergerak atau stagnan.

Aktivitas perdagangan mencatatkan nilai transaksi total Rp 17,737 triliun. Volume perdagangan mencapai 35,176 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,13 juta kali.

Penurunan tajam ini menyeret kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut hingga menjadi Rp 10.576 triliun.

Di lingkup regional, pergerakan mayoritas bursa saham di Asia cenderung bervariasi. Beberapa indeks utama di kawasan mencetak penguatan besar, meskipun pasar Hong Kong dan China masih tertahan di zona merah.

Indeks Nikkei 225 di Jepang melesat 3,14 persen atau naik 1.879,73 poin ke level 61.684,14. Kinerja positif disusul oleh indeks Kospi Korea Selatan yang melonjak 8,42 persen atau naik 606,64 poin ke posisi 7.815,59.

Indeks Taiwan Weighted menguat sebesar 3,37 persen atau bertambah 1.347,39 poin ke level 41.368,21.

Namun, pasar saham China masih dibayangi tekanan. Indeks Shanghai Composite melemah 2,04 persen atau turun 84,908 poin ke level 4.077,277, sementara indeks Shenzhen Component terkoreksi 2,07 persen menjadi 15.247,27 setelah berkurang 322,709 poin.

Pelemahan juga melanda indeks Hang Seng Hong Kong yang jatuh 1,03 persen atau terpangkas 264,60 poin menuju level 25.386,52.

Indeks Straits Times Singapura bergerak stagnan dengan penurunan tipis 0,01 persen ke level 5.044,54, sedangkan bursa Malaysia melemah setelah indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI turun 0,37 persen menjadi 1.711,39.

Indeks Nifty 50 India ditutup bergerak dalam rentang terbatas dengan kenaikan tipis sebesar 0,01 persen di posisi 23.660,90.