SKK Migas Catat Produksi Minyak Mentah Capai 576700 Barel Per Hari

Sedang Trending 47 menit yang lalu

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan rata-rata produksi minyak mentah Indonesia, termasuk kondensat, sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai sekitar 576.700 barel per hari (bph), dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (21/5/2026).

Realisasi pencapaian tersebut disampaikan di Jakarta dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI. Berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto, seluruh hasil produksi minyak mentah dalam negeri tersebut saat ini diwajibkan untuk diserap oleh pasar domestik.

Deputi Eksploitasi SKK Migas Surya Widyantoro memberikan rincian data pencatatan volume yang berhasil dihimpun oleh institusinya hingga bulan keempat tahun ini.

“Itu di 576.700 barel oil per day average-nya rata-rata sampai dengan April karena kita punya data akhir April harian yang Mei masih berjalan,” kata Surya Widyantoro, Deputi Eksploitasi SKK Migas.

Selain volume produksi, pemerintah turut memaparkan data keuangan hulu migas. Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM M Rizwi Jilanisaf Hisjam memaparkan nilai kontrak kegiatan hulu migas hingga April 2026 yang menyentuh angka US$2,58 miliar, dengan komponen biaya sebesar US$2,35 miliar.

Komitmen penggunaan produk dalam negeri atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari total biaya tersebut dilaporkan telah merealisasikan target nilai yang signifikan.

“Nah, dari nilai tersebut, komitmen TKDN berhasil dicapai sebesar 1,48 miliar US Dollar atau 62,92% secara kumulatif,” kata M Rizwi Jilanisaf Hisjam, Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM.

Sebelumnya, fluktuasi volume sempat terjadi pada triwulan pertama tahun ini. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjabarkan produksi minyak mentah periode Januari-Maret 2026 sebesar 572.724 bph, yang terdiri atas minyak bumi 490.589 bph, kondensat 55.851 bph, natural gas liquid (NGL) hulu 21.595 bph, dan NGL gas terproses 4.239 bph.

Secara bulanan, produksi tercatat sebesar 528.108 bph pada Januari, kemudian naik menjadi 590.627 bph pada Februari, dan mencapai 599.862 bph pada Maret. Penurunan pada Januari dipicu kebocoran pipa PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang mengganggu pasokan gas ke pembangkit listrik MCTN di Blok Rokan.

Kondisi kerusakan pipa dan dampaknya terhadap operasional di lapangan dijelaskan secara mendalam dalam evaluasi kerja instansi tersebut.

“Januari turun karena pipa TGI pada 2 Januari putus, sehingga tidak bisa menyuplai gas untuk pembangkit listrik MCTN di Rokan, sehingga turunnya sangat besar sekali. Alhamdulillah pipa TGI sudah selesai, tetapi akhir Maret kemarin berdasarkan pigging itu masih ditemukan tiga titik yang rawan, sehingga dalam hal ini dioperasikan belum maksimal,” kata Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.

Di sisi lain, Indonesia tercatat memiliki deadstock minyak mentah sebanyak 2,56 juta barel per 31 Maret 2025, dengan 430.000 barel di antaranya siap untuk proses lifting.

Langkah pemanfaatan sisa volume tersebut terus diupayakan guna mengoptimalkan proyeksi capaian lifiting pada periode-periode berikutnya.

“Nah untuk deadstock kami upayakan dengan teknologi menggunakan chemical dan bakteri anaerob yang 2,56 juta barel ini kita upayakan untuk bisa di-lifting untuk bulan-bulan berikutnya,” kata Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.

Untuk keseluruhan tahun 2026, SKK Migas memproyeksikan total produksi minyak mentah dan kondensat dapat menyentuh 610.000 bph. Target lifting minyak dalam APBN 2026 sendiri ditetapkan sebesar 610.000 bph, sementara rencana kerja SKK Migas mematok angka 610.800 bph.