Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada jeda perdagangan Sesi I. Penurunan ini membuat IHSG menjadi satu-satunya indeks yang memerah di regional, di saat bursa saham Asia lainnya justru melesat.
Sentimen positif mengenai perkembangan negosiasi menuju perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi katalis utama bagi pasar global. Namun, kondisi tersebut tidak searah dengan pergerakan pasar domestik.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, IHSG menutup Sesi I dengan koreksi signifikan sebesar 2,76% ke posisi 6.144 pada perdagangan Kamis (21/5/2026).
Aktivitas perdagangan di pasar modal terpantau cukup ramai yang diwarnai oleh aksi jual serta panic selling. Nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp9,78 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 19,91 miliar saham melalui frekuensi sebanyak 1,28 juta kali.
Data pergerakan saham menunjukkan terdapat 118 saham yang menguat. Sementara itu, sebanyak 601 saham mengalami penurunan dan 94 saham lainnya bergerak stagnan. IHSG hari ini bergerak dalam rentang posisi terendah di 6.134 dan posisi tertinggi sempat menyentuh 6.378.
Koreksi tajam ini turut menyeret sejumlah emiten ke dalam jajaran top losers pada perdagangan tengah siang. Saham PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) amblas 14,95%, diikuti PT Purisentul Permai Tbk (KDTN) yang melemah 14,92%, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang turun 14,66%.
Performa IHSG ini berbanding terbalik dengan mayoritas bursa di Asia yang menghijau sepanjang hari. Indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 8,43%, KOSDAQ Korea menguat 4,72%, TAIEX Taiwan naik 3,37%, dan NIKKEI 225 Jepang melesat 3,33%.
Selanjutnya, indeks TOPIX Jepang juga naik 1,89%, PSEI Filipina menguat 0,95%, SETI Thailand bertambah 0,36%, CSI 300 China terapresiasi 0,32%, SENSEX India naik 0,08%, dan KLCI Malaysia tumbuh 0,04%.
Penguatan tajam di bursa Asia dipicu oleh sentimen global setelah investor merespons positif pernyataan Presiden AS Donald Trump. Ia menyebutkan bahwa negosiasi antara pihak AS dan Iran kini telah memasuki tahapan final.
Perkembangan tersebut memicu harapan publik terkait segera pulihnya jalur aliran energi melalui Selat Hormuz yang bernilai strategis.
Trump juga menyatakan kesepakatan akan tercapai atau “Kami akan melakukan beberapa hal yang agak tidak menyenangkan, tetapi semoga itu tidak terjadi,” menurut laporan White House pool, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Di sisi lain, pihak Iran dilaporkan sedang meninjau rancangan proposal terbaru dari AS untuk menanggapi proposal 14 poin dari Teheran. Namun, berdasarkan laporan Tasnim, pihak Iran saat ini belum memberikan respons resmi.
Mengenai situasi ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di platform X bahwa negaranya telah “mengeksplorasi setiap jalan untuk menghindari perang,” serta menambahkan “semua jalur tetap terbuka dari pihak kami.”
Kondisi pasar saat ini juga mulai mengurangi taruhan terhadap kebijakan Federal Reserve yang dinilai bakal menaikkan suku bunga hingga akhir tahun. Pelaku pasar memperkirakan langkah lanjutan dari The Fed akan berbeda dengan ekspektasi pemangkasan beberapa kali sebelum AS menyerang Iran pada Februari lalu.
Investor kini secara konsisten memperhitungkan potensi terjadinya de-eskalasi mendadak. Hal ini mencakup skenario kesepakatan di mana Iran bersedia membuka kembali jalur pelayaran utama dan mencairkan jutaan barel minyak yang tertahan di Teluk Persia.
Berdasarkan riset terbaru dari Phillip Sekuritas Indonesia, pergerakan bursa Asia yang menguat ini mengikuti tren bursa Wall Street yang melesat lebih dari 1% karena meningkatnya harapan penyelesaian konflik di Timur Tengah.
“Presiden AS Donald Trump mengatakan AS sudah berada di tahap akhir untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Selain itu, beberapa kapal tanker diberitakan sedang bergerak untuk melintasi Selat Hormuz,” jelas Phillip, Kamis.
37 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·