Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan besar selama sepekan perdagangan periode 18–22 Mei 2026. Seperti diberitakan oleh Money, indeks pasar saham Indonesia tercatat terkoreksi sebesar 8,35 persen atau mengalami penurunan 561,28 poin hingga ditutup pada posisi 6.162,05.
Koreksi tajam tersebut mengakibatkan nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut sekitar 10,07 persen. Penurunan ini setara dengan hilangnya dana sebesar Rp 1.190 triliun, dari yang sebelumnya Rp 11.825 triliun menjadi Rp 10.635 triliun.
Berdasarkan data dari otoritas bursa, laju indeks sempat merosot hingga menyentuh area 5.900. Meskipun demikian, pergerakan indeks berhasil berbalik arah hingga mampu bertahan di atas level psikologis 6.000 pada akhir pekan.
Performa pada perdagangan Jumat (22/5/2026) sebenarnya menunjukkan sinyal positif dengan penguatan sebesar 67,10 poin atau naik 1,10 persen ke level 6.162,04. Dalam perdagangan harian tersebut, sebanyak 449 saham bergerak menguat, 251 saham melemah, dan 118 saham tidak mengalami perubahan harga.
Tim Riset Pilarmas Sekuritas mengidentifikasi bahwa sektor bahan baku menjadi penggerak utama pada hari terakhir perdagangan dengan lonjakan mencapai 6,85 persen. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi satu-satunya kelompok saham yang masih tertekan dengan pelemahan sebesar 0,28 persen.
"Nilai transaksi yang terjadi pada perdagangan hari ini sebesar Rp 17,90 triliun dan dalam sepekan ini IHSG mengalami pelemahan sebesar 8,3 persen," tulis Tim Pilarmas dalam risetnya, Jumat (22/5/2026).
Sementara itu, Alrich Paskalis Tambolang selaku Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa mayoritas sektor saham berhasil mendarat di zona hijau pada penutupan pekan. Sektor energi menyusul penguatan sektor bahan baku dengan kenaikan signifikan sebesar 4,84 persen.
Menurut Alrich, sentimen positif pada sektor energi dan bahan baku ini berembus dari rumor penundaan kewajiban ekspor komoditas strategis negara. Kebijakan pembatasan ekspor batu bara dan komoditas utama tersebut dikabarkan akan diundur hingga 1 Januari 2027.
"Penundaan ini dinilai memberikan periode transisi yang lebih panjang bagi eksportir dan pembeli internasional untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kebijakan tersebut," ujar Alrich.
Kemerosotan IHSG yang terjadi selama lima hari perdagangan dipicu oleh rontoknya harga saham-saham dengan kapitalisasi pasar raksasa. Berdasarkan data pergerakan saham terhitung dari tanggal 18 hingga 22 Mei 2026, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi beban terberat setelah anjlok 53,49 persen dan memangkas 47,55 poin indeks.
Saham berbobot besar lain yang ikut menyeret indeks adalah PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang merosot 47,34 persen, memberikan dampak negatif sebesar 43,21 poin. Emiten energi terbarukan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga melemah 23,44 persen dan menekan indeks hingga 27,67 poin.
Penurunan ini diikuti oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang terkoreksi sebesar 22,84 persen dengan kontribusi pelemahan 26,72 poin. Selanjutnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan penurunan harga sebesar 21,62 persen serta mengurangi 24,31 poin dari total pergerakan IHSG.
Kendati pasar tertekan, beberapa emiten masih sanggup menahan kejatuhan indeks lebih dalam. PT Sinarmas Multi Artha Tbk (SMMA) memimpin motor penguatan dengan kenaikan harga 7,07 persen dan menyumbang tambahan 8,32 poin bagi IHSG.
Sektor penopang lain dihuni oleh PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) yang melesat 7,69 persen dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang tumbuh 4,57 persen. Selain itu, saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menguat sebesar 5,98 persen, disusul PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan kenaikan sebesar 2,03 persen.
Aktivitas pemodal internasional terpantau masih didominasi oleh aksi jual di tengah fluktuasi pasar modal domestik. Sepanjang pekan, investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 807,7 miliiar, yang mengakibatkan akumulasi jual bersih asing sejak awal tahun 2026 menembus Rp 40,82 triliun.
Proyeksi Fundamental Ekonomi Makro
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi situasi koreksi pasar ini dengan tetap membawa optimisme terhadap ruang pertumbuhan jangka panjang pasar saham nasional. Purbaya menegaskan bahwa arah pergerakan pasar saham pada waktunya akan kembali mencerminkan kondisi fundamental ekonomi serta kinerja riil korporasi.
"Kalau ekonominya bagus, profitability-nya juga meningkat," ujar Purbaya di Istana Negara, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Lebih lanjut, ia memberikan catatan bahwa posisi harga beberapa saham saat ini sudah masuk dalam kategori undervalued atau berada di bawah nilai fundamental aslinya. Purbaya memiliki keyakinan kuat bahwa kembalinya sentimen positif didukung perbaikan ekonomi internal akan kembali memacu laju IHSG.
"Jadi tinggal tunggu waktu saja, enggak lama sampai harga IHSG berubah," kata dia.
Menteri Keuangan juga menambahkan bahwa indikator teknikal pasar saham saat ini sudah mulai memperlihatkan ruang pembalikan arah yang cukup besar.
"Kalau dilihat dari teknikalnya, minggu depan sudah lari kencang," tutur Purbaya.
40 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·