IHSG Ditutup Menguat ke Level 6.162 pada Akhir Pekan

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebesar 67,10 poin atau 1,10 persen ke level 6.162,04 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (22/5/2026). Dilansir dari Money, penguatan akhir pekan ini didorong oleh kenaikan tajam sektor komoditas strategis.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 449 saham mengalami penguatan, 251 saham melemah, dan 118 saham lainnya stagnan. Walaupun berhasil bangkit pada perdagangan hari Jumat, akumulasi performa IHSG masih mencatatkan penurunan sebesar 8,35 persen dalam jangka waktu sepekan terakhir.

Sektor basic materials memimpin lonjakan performa dengan kenaikan tertinggi mencapai 6,85 persen. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi penekan utama pasar modal setelah terdepresiasi sebesar 0,28 persen pada akhir sesi.

"Nilai transaksi yang terjadi pada perdagangan hari ini sebesar Rp 17,90 triliun dan dalam sepekan ini IHSG mengalami pelemahan sebesar 8,3%," tulis Tim Pilarmas, Tim Riset Pilarmas.

Pergerakan Indeks LQ45 terpantau konsisten bergerak di zona hijau sepanjang hari perdagangan. Kelompok saham yang mendominasi penguatan bursa kali ini meliputi MDKA, INCO, DEWA, BUMI, dan MBMA, sementara saham yang menguat terbesar adalah DFAM, CTBN, PBSA, TALF, dan MDKA.

"Sedangkan saham–saham yang mendominasi penurunan di antaranya AMMN, CUAN, ASII, TLKM, EMTK," kata Tim Pilarmas, Tim Riset Pilarmas.

Untuk kelompok emiten yang mengalami koreksi paling dalam, pergerakan pasar mencatat beberapa nama instrumen investasi. Saham-saham yang mengalami penurunan terbesar di antaranya adalah PGLI, ASPR, BOBA, LCKM, dan APIC.

"Sementara saham-saham yang mengalami penurunan terbesar di antaranya PGLI, ASPR, BOBA, LCKM, dan APIC," ujar Tim Pilarmas, Tim Riset Pilarmas.

Analis pasar modal lain mencatat mayoritas sektor saham berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau. Sektor finansial menjadi satu-satunya bidang yang terkoreksi dengan penurunan 0,38 persen, sedangkan sektor energi dan basic materials masing-masing naik 6,85 persen dan 4,84 persen karena rumor penundaan kebijakan ekspor komoditas negara hingga 1 Januari 2027.

"Penundaan ini dinilai memberikan periode transisi yang lebih panjang bagi eksportir dan pembeli internasional untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kebijakan tersebut," kata Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas.