Vale Indonesia Sebut Industri Pertambangan Hadapi Stigma Negatif

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Bernardus Irmanto menilai industri pertambangan kerap dihubungkan dengan aktivitas perusakan lingkungan, meskipun komoditasnya krusial bagi transisi energi. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam acara Jogja Financial Festival pada Sabtu (23/5/2026), dilansir dari Detik Finance.

"Nikel kemudian ada beberapa mineral lain itu digunakan untuk mendorong agenda transisi energi, jadi tujuannya baik. Tapi pertambangannya sendiri seringkali dinarasikan sebagai industri yang sangat destruktif. Kemudian industri destruktif ini yang menyebabkan pertambangan ini itu mendapatkan stigma yang negatif," ungkap Bernardus Irmanto, Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk.

Pria yang akrab disapa Anto tersebut menyatakan bahwa cap buruk ini berdampak pada pemberian sanksi yang kurang adil bagi pelaku industri. Padahal, sektor kerukan bumi ini diklaim menjadi tiang utama peradaban.

"Pertambangan itu mendapatkan stigma yang negatif, kemudian mendapatkan sorotan, dan kemudian juga mendapatkan penalti-penalti yang menurutnya tidak sepenuhnya fair," terang Bernardus Irmanto.

Ia memaparkan bahwa area wilayah tambang di seluruh dunia hanya mencakup 1 persen dari total daratan Bumi. Menurut dia, porsi pembukaan lahan terbesar justru diperuntukkan bagi sektor perumahan serta agrikultur.

Sektor energi, lanjut Anto, ikut menyokong keberlanjutan wilayah hunian dan pertanian melalui pasokan bahan baku pupuk, besi, hingga nikel. Atas dasar itu, perubahan cara pandang masyarakat terhadap industri ini dinilai sangat diperlukan.

"Narasi yang harus diperbaiki, walaupun memang betul tambang ini mengubah landscape lingkungan. Tetapi tanpa tambang, menurut saya pribadi, alokasi daratan itu menjadi lebih buruk," jelas Bernardus Irmanto.

"Mineral itu diperuntukan untuk meningkatkan kehidupan manusia secara khusus dalam agenda transisi energi memperbaiki atau membantu mengatasi isu-isu climate changes," pungkas Bernardus Irmanto.