Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan posisinya dan berakhir di zona merah pada level 6.858 pada penutupan perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Penurunan sebesar 46 poin atau 0,68 persen ini terjadi seiring munculnya tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia.
Data perdagangan mencatat aktivitas pasar tetap ramai dengan volume transaksi mencapai 325,2 juta lot dan nilai transaksi Rp15,82 triliun. Meski likuiditas terjaga, arah investasi cenderung defensif akibat sentimen eksternal yang membayangi aset berisiko menurut laporan KabarBursa.
Sektor kesehatan menjadi pemberat utama indeks setelah mengalami kejatuhan sebesar 3,51 persen. Emiten seperti MERK, SILO, TSPC, KLBF, SIDO, PRDA, dan DVLA tercatat mengalami pelemahan signifikan. Koreksi pada saham KLBF juga berdampak langsung pada indeks LQ45 dan memperberat posisi IHSG hingga akhir sesi perdagangan.
Selain sektor kesehatan, sejumlah saham dalam jajaran LQ45 turut masuk dalam daftar top losers, termasuk CUAN, AMRT, JPFA, ANTM, ASII, dan MBMA. Tekanan pada ANTM serta MBMA menunjukkan sektor komoditas belum stabil, sementara ASII dan AMRT memberi beban dari sektor konsumsi dan konglomerasi.
Sebaliknya, sektor industri dasar menjadi penopang pasar dengan kenaikan 1,85 persen yang dipimpin oleh saham BRPT dan SMGR. Di deretan top gainers LQ45, beberapa emiten seperti BRPT, ISAT, ADRO, AADI, ESSA, EXCL, dan BBNI masih konsisten berada di zona hijau di tengah fluktuasi pasar.
Kondisi pasar regional Asia bergerak variatif di tengah kekhawatiran atas rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia turut menekan mata uang Asia, termasuk rupiah yang melemah 0,66 persen ke posisi Rp17.529 per dolar AS.
Di bursa Asia, indeks Nikkei 225 menguat 0,52 persen dan Topix naik 0,83 persen, namun pasar China dan Hong Kong cenderung melemah. Saat ini investor sedang menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang diprediksi mencapai 3,7 persen secara tahunan, lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 3,3 persen.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·