IHSG Melemah ke Posisi 6.858 Akibat Tekanan Rupiah dan Yield Obligasi

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,68 persen ke level 6.858 pada perdagangan Selasa (12/5/2026) setelah sempat terkoreksi hingga lebih dari 2 persen pada sesi siang. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan indeks hari ini menyentuh titik terendah pada angka 6.762 dengan nilai transaksi mencapai Rp16,29 triliun.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 463 saham mengalami penurunan harga, sementara 207 saham menguat dan 151 saham lainnya tidak bergerak. Sektor kesehatan dan perindustrian menjadi beban utama dengan koreksi masing-masing sebesar 3,51 persen serta 3,21 persen, di tengah volume perdagangan 32,98 miliar saham.

Penurunan indeks tertahan oleh penguatan signifikan sejumlah saham kapitalisasi besar seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melonjak 14,8 persen ke posisi Rp2.280 per saham. Selain itu, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) juga menguat 9,25 persen ke level Rp5.375 per saham pada penutupan perdagangan hari ini.

Daftar Saham Penopang dan Penekan IHSG (12/5/2026)Saham Penopang (Poin)Saham Penekan (Poin)
Barito Pacific (BRPT) +16,67Ekamas Mora Republik (MORA) -24,32
Sinar Mas Multiartha (SMMA) +4,87Astra International (ASII) -8,01
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) +3,15Bayan Resources (BYAN) -7,18
Petrosea (PTRO) +3,01Barito Renewables Energy (BREN) -6,67
Bank Negara Indonesia (BBNI) +2,92DCI Indonesia (DCII) -5,97
Alamtri Resources Indonesia (ADRO) +2,84Impack Pratama Industri (IMPC) -4,86
Dian Swastatika Sentosa (DSSA) +2,65Mayapada Hospital (SRAJ) -4,63
Pacific Strategic Financial (APIC) +2,49Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) -3,41
Merdeka Gold Resources (EMAS) +2,07Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) -2,69
Indosat (ISAT) +2,01Aneka Tambang (ANTM) -2,45

Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ke level terendah baru menjadi faktor negatif utama bagi bursa domestik. Kenaikan yield SUN tenor 10 tahun ke level 6,72 persen turut memicu kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN akibat naiknya harga minyak global.

"Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji level 6.700–6.750, namun jika IHSG bertahan di atas level tersebut diperkirakan berpotensi terjadi technical rebound, menguji level 6.900," papar Phintraco Sekuritas.

Kondisi pasar modal Indonesia juga dipengaruhi sentimen global terkait kenaikan yield obligasi di Amerika Serikat dan Inggris. Analisis Panin Sekuritas mencatat IHSG saat ini berada di bawah level support 6.877 yang mengindikasikan adanya ruang pelemahan lanjutan ke rentang 6.579 hingga 6.684.