IMF Imbau Bank Sentral Tak Agresif Naikkan Suku Bunga April 2025

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Dana Moneter Internasional (IMF) mengimbau bank-bank sentral dunia untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan guna merespons inflasi akibat konflik di Timur Tengah pada Rabu (15/4/2026). Lembaga tersebut menilai otoritas moneter memiliki opsi lain untuk menekan ekspektasi harga tanpa harus melakukan pengetatan agresif.

Direktur Riset IMF, Pierre‑Olivier Gourinchas, menjelaskan bahwa gangguan di Selat Hormuz telah memicu gejolak harga minyak mentah, gas, hingga pupuk. Meski inflasi berpotensi melampaui kisaran normal 2-3%, bank sentral utama seperti Federal Reserve dan Bank Indonesia disarankan tetap tenang.

"Saya menekankan bahwa tentu saja bank sentral tidak dapat berbuat banyak terhadap harga minyak, tetapi mereka dapat mengambil langkah untuk mencegah munculnya spiral upah-harga," kata Pierre‑Olivier Gourinchas, Penasihat Ekonomi dan Direktur Riset IMF dilansir dari CNBC Indonesia.

Berdasarkan simulasi IMF, skenario terburuk jika konflik berlanjut hingga tahun depan dapat memangkas pertumbuhan global menjadi 2% dengan inflasi melebihi 6%. Dalam skenario moderat, pertumbuhan global diprediksi turun ke angka 3,1% tahun ini dengan kenaikan harga energi sekitar 19%.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengkritik proyeksi IMF dan Bank Dunia yang memangkas prospek pertumbuhan ekonomi menjadi 3,4%. Dilansir dari Kumparan, Bessent menilai reaksi kedua lembaga tersebut berlebihan karena AS diyakini mampu melewati kenaikan harga dengan cepat.

Kondisi global ini turut memberikan tekanan nyata terhadap stabilitas fiskal Indonesia. Anggota Komisi XI DPR-RI, Hasanuddin Wahid, melalui catatan di Detikcom memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak global hingga US$100 per barel dapat membengkakkan defisit APBN hingga Rp204 triliun.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga meningkatkan biaya impor energi dan beban subsidi nasional. Pemerintah kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah risiko kenaikan ongkos logistik dan harga bahan pokok di pasar domestik.