Dana Moneter Internasional (IMF) melaporkan kenaikan signifikan anggaran militer global pada Rabu (15/4/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan. Laporan World Economic Outlook edisi April 2026 menunjukkan sekitar separuh negara di dunia telah memperbesar alokasi belanja pertahanan mereka dalam lima tahun terakhir.
Data IMF mengungkapkan bahwa hampir 40 persen negara pada 2024 telah mengalokasikan lebih dari 2 persen produk domestik bruto (PDB) untuk sektor pertahanan. Angka ini meningkat drastis dibandingkan tahun 2018 yang hanya sebesar 27 persen dari total negara yang dipantau, sebagaimana dilansir dari Money.
Negara-negara anggota NATO juga menyepakati komitmen kebijakan baru untuk menaikkan anggaran pertahanan hingga 5 persen dari PDB pada 2035. Target sistematis tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan kesepakatan sebelumnya yang dipatok pada angka 2 persen.
"Pengeluaran pertahanan meningkat pesat. Dalam lima tahun terakhir, sekitar setengah dari negara-negara di dunia telah meningkatkan anggaran militer mereka," tulis IMF dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026.
Lonjakan belanja ini berdampak pada industri persenjataan, di mana penjualan oleh 100 perusahaan senjata terbesar dunia meningkat dua kali lipat secara riil dalam dua dekade. IMF mencatat bahwa fenomena ini kini lebih sering terjadi, terutama di pasar negara berkembang yang melakukan modernisasi alat utama sistem senjata.
Dilihat dari sisi makroekonomi, peningkatan belanja pertahanan berfungsi sebagai stimulus fiskal yang mampu mendorong PDB riil hingga lebih dari 3 persen di masa damai. Namun, sekitar dua pertiga dari peningkatan belanja ini dibiayai melalui defisit anggaran yang memperburuk posisi fiskal negara.
Rasio utang pemerintah tercatat rata-rata naik sekitar 7 persen dalam tiga tahun setelah lonjakan belanja dimulai. Kondisi ini menciptakan tantangan bagi stabilitas ekonomi karena memicu kenaikan inflasi sementara dan meningkatkan ketergantungan pada impor peralatan militer dari luar negeri.
IMF juga memperingatkan adanya risiko pergeseran prioritas anggaran yang dapat mengorbankan sektor kesejahteraan masyarakat. Peningkatan pengeluaran militer yang dibiayai melalui realokasi anggaran sering kali menyebabkan pengurangan dana signifikan pada sektor kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·