Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat melonjak tajam pada Maret 2026, mencatat kenaikan bulanan tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga energi dan kekhawatiran akibat konflik Iran yang memanas.
Data yang dirilis Jumat (10/4/2026) menunjukkan, CPI secara tahunan mencapai 3,3 persen, naik dari 2,4 persen pada Februari. Kenaikan harga bensin menjadi kontributor utama, melonjak 21,2 persen yang menyumbang hampir tiga perempat dari kenaikan CPI bulanan.
Peneliti juga mencatat bahwa sentimen konsumen di AS menurun signifikan. Survei Universitas Michigan menunjukkan indeks sentimen konsumen anjlok ke level 47,6 poin pada April, menjadikannya yang terendah dalam sejarah.
Direktur survei Universitas Michigan, Joanne Hsu, menjelaskan bahwa persepsi konsumen sangat dipengaruhi oleh situasi geopolitik, khususnya konflik Iran. “Menunjukkan bahwa banyak konsumen menyalahkan konflik Iran atas perubahan yang tidak menguntungkan terhadap perekonomian,” kata Hsu, seperti dilansir dari Money.
Sebagian besar survei dilakukan sebelum gencatan senjata pada 7 April, mencerminkan kondisi di tengah tingginya ketegangan. Hsu melihat potensi perbaikan jika tekanan geopolitik mereda.
“Ekspektasi ekonomi kemungkinan akan membaik setelah konsumen yakin bahwa gangguan pasokan akibat konflik Iran telah berakhir dan harga gas telah menurun,” tambah Hsu.
Selain harga energi yang naik 10,9 persen pada Maret, tarif penerbangan juga meningkat 2,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan 14,9 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, inflasi inti, yang mengecualikan harga pangan dan energi yang volatil, naik lebih moderat sebesar 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan.
Kondisi ini menempatkan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam posisi sulit. Potensi kenaikan suku bunga untuk mengekang inflasi berisiko melemahkan pasar tenaga kerja. Risalah dari pertemuan terbaru The Fed mengindikasikan kekhawatiran pejabat terkait inflasi yang berkepanjangan.
Ekonom Bernard Yaros dalam laporannya kepada investor menyatakan The Fed kemungkinan akan memandang guncangan harga energi sebagai faktor sementara. Namun, ia mengingatkan bahwa inflasi jangka pendek tetap menjadi kekhawatiran karena kenaikan harga bensin dan dampak bertahap biaya energi pada harga makanan serta kebutuhan pokok lainnya.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja tetap menunjukkan stabilitas. Pada Maret, ekonomi AS menambah 178.000 lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 persen. Data ini sedikit melegakan di tengah tekanan inflasi.
Presiden Federal Reserve San Francisco, Mary Daly, sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa guncangan minyak dari perang Iran akan memperpanjang waktu untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen bank sentral AS.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·